SOROT 354

Ludruk di Ujung Tanduk

Gedung Ludruk di Kampung Seni THR Surabaya
Sumber :
  • VIVA.co.id/Tudji Martudji

"Saya kerja serabutan, jadi kuli bangunan," ujarnya sambil tersenyum kecut.

Tak hanya Deden. Sekitar 15 kru ludruk lainnya juga melakukan hal serupa. Untuk bertahan hidup, mereka harus kerja serabutan. "Tapi, mereka senang. Meski tidak ada uangnya. Lha, wong bayaran main ludruk hanya Rp15.000 atau Rp20.000, tetap semangat. Mangan nggak mangan pokoke ngumpul (makan tidak makan, pokoknya kumpul)," ujar Deden berseloroh.

Hal itu diamini Sugeng Rogo. Pemain ludruk ini mengatakan, ia harus kerja sampingan agar bisa menyambung hidup. Berbeda dengan Deden yang menjadi kuli bangunan, Rogo memilih membuka tempat penyewaan pakaian khas Jawa, lengkap dengan aksesorinya.

"Saya buka penyewaan pakaian untuk resepsi atau lainnya," katanya kepada VIVA.co.id, Kamis, 2 Juli 2015.

Selain itu, bersama dengan sejumlah temannya, ia membuat beragam suvenir seperti kalung dan blangkon. Barang-barang itu, ia titipkan ke pedagang di luar THR.

Sutradara Ketoprak dan Wayang Orang, Widayatno, mengatakan, selain minat masyarakat yang terus menurun, regenerasi juga tidak berjalan. Menurut dia, pertunjukan yang digratiskan juga membuat penonton merasa sungkan. Dia kemudian memberi contoh, pernah ada sekeluarga dengan mengendarai mobil masuk ke Kampung Seni THR.

img_title Jangan Telat, Ini Jadwal SIM Keliling 16 September 2026

"Orang tersebut heran, pertunjukan sebagus ini kok gratis, dia mengaku sungkan untuk masuk, meski akhirnya juga menonton. Nah, ini yang harus kami pikirkan ulang," ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 2 Juli 2015.

Budayawan Henky Kusuma (53) mengakui, kondisi ludruk di Surabaya memang sangat memprihatinkan. Menurut dia, pemainnya habis, sementara regenerasi tidak jalan. “Sampai tahun 1990 ludruk masih di puncak kejayaan, tapi sekarang sudah jatuh. Kalau boleh saya katakan, sekarang ludruk di Surabaya selesai, tamat," katanya kepada VIVA.co.id, Kamis, 2 Juli 2015.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Budayawan sekaligus seniman ludruk Henky Kusuma

img_title Beda Usia Amanda Rigby dan Erin, Ikut Disorot saat Andre Taulany Dikabarkan Mau Menikah Lagi
Budayawan sekaligus seniman ludruk, Henky Kusuma. Foto:
VIVA.co.id/Tudji Martudji

Dia bercerita, dulu tahun 80-an ada Ludruk Sari Warni. Ke mana pun main, penonton selalu berjubel. Selain itu, sekarang tidak ada gedung ludruk. Padahal, menurut dia, dulu sangat banyak gedung ludruk.

img_title KPK Duga Ada Korupsi Lain di ATR/BPN, Tak Cuma Kasus HGB Summarecon

“Di Surabaya dulu, pada tahun 80 sampai tahun 90-an, gedung ludruk sangat banyak, menjamur. Di setiap wilayah kecamatan ada. Sekarang tidak ada. Sekarang, habis," dia menambahkan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut