- VIVA.co.id/Tudji Martudji
Selain itu, mereka bisa mendiami kompleks THR tanpa dipungut biaya, baik untuk listrik maupun air. Selain itu, tiap kali pertunjukan, pemerintah memberikan subsidi sekitar Rp5 juta.
Namun, ada yang dirasa kurang oleh Deden, yakni soal promosi dan pembinaan. Deden menuding, salah satu yang membuat masyarakat enggan datang dan menonton ludruk karena lokasi THR tak kelihatan, tertutup bangunan Hitex Mall. Selain itu, tidak ada baliho di dekat pintu masuk THR yang menunjukkan lokasi pementasan ludruk dan beragam kesenian daerah tersebut.
“Harapan saya, selain bentuk bantuan seperti ini (gedung dan sarana lainnya), juga perlu semacam promosi agar masyarakat tergugah lagi menyaksikan ludruk, atau dengan terobosan apa lah. Agar Ludruk tidak punah atau tidak mati.”
![]()
Widayatno mengeluhkan hal serupa. Kampung Seni THR yang tak terlihat, membuat masyarakat enggan masuk areal tersebut. Tidak ada promosi lainnya yang dilakukan internal Kampung Seni atau Pemkot Surabaya.
Henky berharap, pemerintah lebih serius menangani ludruk. Kesenian ini sudah menjadi ikon Surabaya. "Pemkot Surabaya selama ini masih setengah hati. Kalau pemerintah menganggap kesenian ludruk sebagai ikon Surabaya, harus ada pembinaan serius," ujarnya. Selain itu, untuk menyelamatkan ludruk di Surabaya, Hengky mengusulkan ada "Bapak Angkat".
Harapan serupa disampaikan Hanif Nashrullah. Menurut dia, bantuan subsidi Rp5 juta kepada kelompok ludruk memang sangat membantu. Namun, itu saja tidak cukup.
Menurut dia, harus ada bantuan yang lebih konkret dalam bentuk pembinaan untuk meningkatkan kreativitas dan regenerasi. “Itu yang belum saya lihat, jadi bantuan itu masih setengah hati.”
Sayangnya, Pemerintah Kota Surabaya belum merespons permohonan wawancara VIVA.co.id. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disparta) Kota Surabaya, Wiwiek Widayati tak merespons pesan singkat yang dikirimkan. Upaya menghubungi lewat sambungan telepon juga tak membuahkan hasil.
Hari beranjak malam. Deden masih bertahan di pelataran THR dengan sisa kopi dan rokok di tangan. Pandangannya masih jauh menerawang. Canda dan tawa sejumlah orang yang menggerombol di gedung THR ini tak mampu mengusik lamunannya.
“Sebagai seniman, saya berharap ludruk tidak punah. Masyarakat harus tetap tahu dan mencintai. Ini warisan budaya yang tidak boleh terlepas dari budaya kita,” ujarnya. (art)