SOROT 356

Kala Kekeringan Meradang

Kekeringan di Jawa Tengah
Sumber :
  • ANTARA/Aditya Pradana Putra
Kekeringan di Wonogiri
img_title Basarnas Gelar Operasi SAR Cari 7 Pendaki Terjebak di Gunung Nokilalaki Sulteng
Puluhan warga berdiri memanjang dengan jeriken dan ember di tangan. Foto: VIVA.co.id/Fajar Sodiq

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Hari itu, ada jadwal bantuan air bersih. Mereka datang berbondong-bondong untuk bisa mendapatkan air bersih. Sebab, selama musim kemarau, mereka hanya mengandalkan kebutuhan air bersih dari dropping tangki.

Di daerah ini tak ada sumber mata air. Selama ini, warga mengandalkan air bersih dari bak penampungan air tadah hujan.

Salah seorang warga, Ngatmin, mengatakan, sejak musim kemarau melanda, dia harus membeli air bersih. Air itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti memasak, minum, mandi, cuci dan keperluan lain.

"Sejak dua bulan lalu saya sudah mulai membeli air bersih dari tangki. Satu-satunya sumber air, ya, dari membeli tangki itu," ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 5 Agustus 2015.

Untuk bisa memenuhi kebutuhan air sehari-hari, Ngatmin terpaksa menjual hewan ternaknya berupa seekor kambing. Hasil penjualan kambing tersebut bisa untuk membeli 4-6 tangki air bersih.

"Dengan uang hasil penjualan kambing itu sudah saya gunakan untuk membeli 4 tangki air bersih. Setiap tangki harganya sekitar Rp150 ribu," dia menambahkan.

Ngatmin terpaksa menjual hewan ternaknya, karena sudah tak memiliki uang lagi guna membeli air. Karena, hasil uang dari lahan pertaniannya sudah habis untuk membeli air saat awal musim kemarau melanda dua bulan lalu.

"Sekarang mau menjual hasil pertanian juga sudah tidak ada yang bisa dijual. Punyanya hewan ternak, ya, dijual saja untuk membeli air,” tuturnya.

Kebiasaan warga menjual hewan ternak untuk mencukupi kebutuhan air bersih diamini Camat Paranggupito, Haryanto. Menurut dia, setiap kali musim kemarau datang, warga beramai-ramai menjual hewan ternaknya untuk membeli kebutuhan air bersih.

"Satu-satunya jalan, ya, dengan membeli tangki air bersih karena untuk mengambil air bersih dari telaga jelas tidak memungkinkan. Telaga di wilayah sini airnya hasil dari tadah hujan. Kalaupun masih ada, airnya pasti sudah keruh dan kotor," ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 5 Agustus 2015.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan, di Kabupaten Wonogiri ada 8 kecamatan yang mengalami kekeringan. Kecamatan itu adalah Paranggupito, Selogiri, Manyaran, Eromoki, Nguntoronadi, Giriwoyo, Giritontro, dan Pracimantoro.

"Dari 8 kecamatan itu ada sekitar 38 desa yang daerahnya mengalami kekeringan,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 5 Agustus 2015.

Berdasarkan data BPBD Wonogiri, jumlah warga yang mengalami kekeringan mencapai 67.320 jiwa dari 18.169 kepala kerja (KK). Untuk memenuhi kebutuhan air, warga mengandalkan pasokan tangki air bersih.

"Warga hanya bisa menggantungkan kebutuhan air bersih dari dropping tangki," ujarnya.

Untuk itu, BPBD Wonogiri telah melakukan kegiatan bantuan dropping air di daerah yang dilanda kekeringan tersebut. Jumlah tangki air bersih yang sudah didistribusikan mencapai 264 tangki.

"Tangki tersebut mendistribusikan air bersih di sejumlah bak penampungan air milik warga,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Ruben Onsu Harap Betrand Peto Jujur Soal Kasus Dugaan TPKS, Saksi hingga CCTV Akan Mengungkap!
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut