- ANTARA/Aditya Pradana Putra
![]()
BPBD Wonogiri telah melakukan kegiatan bantuan dropping air di daerah yang dilanda kekeringan. Foto: VIVA.co.id/Fajar Sodiq
Kekeringan Panjang
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, musim kemarau sudah terjadi sejak Maret dan April. Kekeringan terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia khususnya di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) dari BMKG menunjukkan, sejumlah wilayah di Jawa, Bali, NTB, dan NTT telah mengalami HTH lebih dari 60 hari. Dengan kata lain telah mengalami kekeringan ekstrem.
Kepala Sub Bidang Analisis dan Informasi Iklim BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan, kemarau diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober 2015. Menurut dia, fenomena El Nino menyebabkan kemarau tahun ini lebih panjang dari biasanya.
“Daerah-daerah di Indonesia yang berpotensi terkena dampak El Nino adalah Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan,” ujarnya kepada VIVA.co.id saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis, 6 Agustus 2015.
Selain BMKG, beberapa badan pemantauan serupa milik negara lain juga memprediksi El Nino akan terus menguat. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dari Amerika Serikat memperkirakan, tren El Nino semakin menguat pada September-Desember.
Menurut dia, Indonesia harus siap dengan dampak terburuk dari El Nino ini seperti kekeringan dan berkurangnya cadangan air. “Dalam jangka panjang kita harus punya kesiapsiagaan. Untuk musim kemarau selanjutnya, harus ada upaya untuk menyimpan air seperti membangun waduk dan sejenisnya,” katanya.
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menyatakan, berdasarkan ramalan, musim kemarau tahun ini akan lebih panjang dari sebelumnya. Manajer Penanganan Bencana Walhi Indonesia, Mukri Friatna, mengatakan, dibanding 2013 dan 2014, tingkat kekeringan sekarang ini jauh lebih parah.
Pertama, durasinya jauh lebih panjang. Selain itu, dampak dari kekeringan ini juga akan lebih parah terhadap sektor pertanian.
“Tentu akan banyak produk-produk pertanian yang mengalami gagal panen atau bahkan tidak berproduksi sama sekali karena tidak bisa diolah tanahnya,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 5 Agustus 2015.
![]()
Debit air Sungai Batanghari terus mengalami penyusutan akibat kemarau yang melanda daerah itu sejak dua bulan terakhir. Foto: ANTARA/Wahdi Septiawan