- NASA
Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) dari BMKG menunjukan wilayah-wilayah di Jawa, Bali, NTB dan NTT telah mengalami HTH lebih dari 60 hari, atau dengan kata lain telah mengalami kekeringan ekstrim.
Dari pemantauan suhu muka laut, BMKG melihat kolam hangat belum sepenuhnya bergeser ke Pasifik Tengah dan Timur. Namun El Nino di tahun ini menunjukan tren penguatan karena kolam hangat cenderung semakin bergeser ke arah timur, dimana terdapat Kepulauan Indonesia.
Dari situ BMKG memprediksi, El Nino akan semakin menguat hingga mendekati batas ambang kuat El Nino, dan diprediksi bertahan sampai awal tahun 2016.
Dampak El Nino ini tidak saja dikemukakan pakar cuaca, namun juga dari lembaga keuangan dunia. Menurut studi dari Dana Moneter Internasional (IMF), yang ditulis profesor ahli ekonomi dari University of Cambridge, London, Kamiar Mohaddes, negara seperti Amerika, China, Meksiko dan Eropa tidak akan terlalu merugi akibat dampak El Nino. Berbeda dengan India, Australia, Peru dan Indonesia, yang diprediksi akan menjadi negara paling merugi.
“Menurut kalkulasi dari studi yang dilakukan IMF, rata-rata, El Nino ‘sehat’ bisa meningkatkan ekonomi Amerika sekitar 0,55 persen dari GDP, menjadi US$90 miliar tahun ini. Namun sebaliknya di Indonesia, perekonomian negara itu bisa terpangkas cukup banyak. Indonesia bisa rugi banyak, khususnya karena kekeringan dari El Nino mempengaruhi industri tambang, pembangkit listrik, pertanian (cokelat, kopi dan lainnya),” ujar Mohaddes.
Untuk itu, apa yang dikatakan BNPB ada benarnya. Sudah saatnya pemerintah mulai melakukan perbaikan di segala lini, baik sistem pengelolaan air, perbaikan lingkungan, dan pembuatan daerah resapan air. Sekaligus memperbaiki sistem pemantauan cuaca yang dimiliki oleh BMKG. Ini agar setiap fenomena El Nino, yang datang setiap lima sampai tujuh tahun sekali, hal itu bukan lagi dianggap sebagai ancaman yang berarti. (ren)
Dampak El Nino di India, Australia, Peru dan Indonesia diprediksi akan menjadi negara paling merugi. Foto: Reuters