- www.railwaygazette.com
![]()
Karena satu payung, semua moda ini bisa dinaiki dengan satu kartu. Sebuah siaran pers dari RapidKL pada 4 Juli 2015, KL Monorel yang hanya punya satu jalur saja, menargetkan membawa 25 juta penumpang di tahun 2015 ini.
Namun integrasi lima moda ini belum cukup. Saat saya datang pada Senin,10 Agustus 2015, masih di sekitar KL Central, terlihat proyek pembangunan mass rapid transit (MRT) yang nantinya juga akan terkoneksi dengan KL Central. Menurut laporan The Star, jalur MRT pertama di Malaysia ini akan beroperasi pada 2017.
Petang saat tiba di Kuala Lumpur itu, saya langsung menjajal LRT. Saya mencoba LRT yang menuju Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC). Tiket yang berupa token saya beli melalui mesin tiket. Cukup 1,6 ringgit atau sekitar Rp5 ribuan untuk menuju stasiun yang terletak tak jauh dari Menara Kembar Petronas yang ternama itu.
Begitu masuk kereta, di lantai persis di depan pintu kereta, terlihat tulisan ‘Bombardier’, apalagi kalau bukan menunjukkan pembuat gerbong adalah perusahaan yang sama dengan pembuat pesawat Embraer yang berbasis di Brasil.
Dari awalnya melayang di atas jalan, LRT meliuk turun masuk ke bawah tanah menuju stasiun KLCC. Rupanya Stasiun KLCC ternyata juga terkoneksi dengan mal, Suria KLCC, yang membentang di perut Menara Petronas. Betul-betul nyaman, seperti naik pesawat terbang tanpa perlu cemas turbulensi.
Infrastruktur Perkotaan Jadi Kunci
Kemajuan infrastruktur perkotaan Kuala Lumpur memang menarik banyak orang, bukan hanya turis tapi juga pekerja migran. Resminya, penduduk Kuala Lumpur tak lebih dari 2 juta jiwa. Pook Ah Lek, Pemimpin Redaksi Sin Chew Daily, sebuah koran berbahasa Mandarin di Kuala Lumpur, menyebut, angka populasi Kuala Lumpur pada siang hari bisa tiga kali lipat dari itu.
“Banyak pekerja migran,” kata Pook. Dan Indonesia adalah salah satu penyumbang tenaga kerja, baik legal atau pun ilegal.
Dan memang, Kuala Lumpur terlihat seperti kota internasional, orang-orang dari beragam kebangsaan dan etnis atau ras berseliweran di stasiun-stasiun atau pusat-pusat perbelanjaan. Namun Kuala Lumpur kini berfokus diri sebagai kota jasa, perdagangan, keuangan dan pariwisata.