- VIVA.co.id
Ia menjelaskan, para pengungsi dan pencari suaka yang ditempatkan di rumah detensi berjumlah 2.732 orang, di ruang detensi kantor imigrasi 2.280 orang, di ruang detensi Ditjen Imigrasi berjumlah 5 orang, dari 47 community house tertampung sebanyak 3.064 orang, dan imigran mandiri 5.027 orang.
Yan Wely yakin, para pengungsi dari Suriah dan Timteng tidak akan datang ke Indonesia. Sebab, jaraknya terlalu jauh. Menurut dia, mereka datang dari negaranya saja memakan waktu hampir satu bulan dengan bekal seadanya.
Sementara itu, untuk menuju Indonesia, mereka harus menempuh lautan dengan persiapan yang cukup. “Kemarin saja yang lewat lautan sudah berapa yang meninggal. Saya tidak yakin akan sampai ke sini,” katanya.
Meski "dikandang", para deteni yang mendiamin Rudenim di Kalideres ini memiliki rutinitas. Bagi yang muslim, setiap Rabu diadakan pengajian. Pihak Rudenim mengundang ustaz untuk memberikan asupan rohani.
Sementara itu, pada Jumat, mereka akan salat Jumat berjamaah. Bagi yang memeluk agama Kristen, setiap Kamis mereka akan beribadah bersama di gereja. Mereka sengaja beribadah di hari Kamis, karena Sabtu dan Minggu petugas Rudenim libur.
Tak hanya beribadah, para pengungsi dan pencari suaka ini juga difasilitasi untuk berolahraga yang dilakukan sepekan sekali. Olahraga itu di antaranya adalah senam aerobic, bola voli, dan futsal. Untuk mengisi waktu luang, mereka juga diberi keterampilan mulai dari belajar komputer, Bahasa Inggris, bermain gitar hingga berkebun.
Khusus untuk deteni yang berkeluarga, ibu dan anak, seminggu sekali bisa renang dan belanja ke mal.
“Mereka ini bukan tahanan seperti di LP. Mereka ini deteni, hanya singgah,” ujar Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Rudenim Jakarta, Raden Achmad Wahyudiono. (art)