SOROT 362

Melawan Kutukan Jerebu

Sorot Asap Jambi Sorot
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ramond EPU

Sorot Asap Jambi Sorot

img_title KontraS: Polisi Gamang Tangkap Korporasi Pembakar Hutan

Orang-orang Melayu menyebut bencana kabut asap sebagai jerebu, yakni kondisi asap pekat yang menyelimuti pandangan.  Foto: ANTARA/Rony Muharrman

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mengapa Berulang?

Delapan belas tahun silam, kutukan jerebu sudah menghantui orang di Pekanbaru atau Sumatera. Kala itu sekitar 11,6 juta hektare hutan Sumatera menjadi arang. Negara merugi sedikitnya Rp47 triliun.

Jerebu merebak hingga menembus batas negara, meruap sampai Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Tak kurang dari US$760 juta kerugian yang terjadi akibat ulah jerebu.

Konon, sejak itu juga ungkapan Melayu yang tertanam di dada orang-orang suku Melayu, yakni "Tebasnya tidak menghabiskan, tebangnya tidak memusnahkan dan bakarnya tidak membinasakan", mulai lenyap bak asap diembus angin.

Catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Riau sesungguhnya pemilik lahan gambut terbesar di Sumatera. Hebatnya, gambut-gambut yang mencapai luasan lebih dari 60 kali luas DKI Jakarta ini menyebar luas hingga kedalaman tiga meter di bawah permukaan.

"Namun sejak 1997, perilaku pembakaran lahan untuk land clearing mulai tidak terkontrol. Lebih dari sepuluh juta hektare lahan pun jadi korban," ujar Mukri Friatna, Manager Penanganan Bencana Walhi.

Tahun itu juga bisa dibilang menjadi titik mula 'kutukan jerebu' melekat di Indonesia. Masa Orde baru menjadi masa pesta poranya izin-izin Hak Penguasaan Hutan (HPH) saling berkejaran dengan izin konsensi untuk Hutan Tanaman Industri (HTI). Semua berebut masuk ke dalam hutan dan hendak menelanjanginya.

Akibatnya sejak itu juga tak kurang dari 4,5 juta hektare lahan gambut yang seharusnya menjadi penyimpan air sekaligus penangkap jutaan karbon akhirnya beralih menjadi HTI.

Tentu saja, kondisi itu belum melingkupi bagaimana mengularnya kanal-kanal raksasa yang merusak siklus hidrologis di wilayah itu. Air-air diatur sedemikian rupa agar menuju laut demi tersedianya lahan siap tanam untuk sawit, akasia atau tanaman ekspor lainnya.

Alhasil, sentuhan yang mengubah kesatuan ekologis hutan tropis menjadi bentangan perkebunan monokultur, akhirnya memutus mata rantai sistem hidrologis. Titik-titik api pun dengan mudahnya merebak massal di sejumlah lahan konsensi, kawasan hutan hingga lahan kritis.

"Sebab itu pada masa tertentu atau musim panas, jutaan hektar ini akhirnya menjadi tumpukan bahan bakar kering yang siap melahap apa saja," kata Mukri.

Ya, jutaan hektare gambut di Riau atau pun di Jambi, Sumatera Selatan hingga Kalimantan kini tak ubahnya seonggok bahan bakar kering. Sedikit saja salah pengelolaannya, 'hantu jerebu' langsung bangun dan siap menenggelamkan Sumatera dan Kalimantan.

Sebab itu juga, berbagai kasus kebakaran khususnya di hutan gambut begitu sulit dituntaskan. Berjuta-juta liter air yang dijatuhkan dengan helikopter sekali pun belum tentu menjamin bisa melembabkan kembali serasah-serasah gambut.

Sadar atau tidak, kini lahan-lahan gambut memang sudah berubah fungsinya. Ia menjadi bahan bakar abadi yang paling hebat kalau hendak membangunkan hantu jerebu.

"Satu-satunya jalan paling efektif adalah mengembalikan tutupan lahan. Lahan gambut harus dipertahankan. Dia harus steril dari semua aktivitas perladangan dan perkebunan," ujar Peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Herman Hidayat.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title KontraS Kritik Cara Pemerintah Gugat Pembakar Hutan
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut