SOROT 372

Darurat Air Bersih

Pemprov DKI Berencana Beli Lahan di Bantaran Sungai
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

VIVA.co.id - Wanita usia tiga puluhan itu terlihat sibuk. Gelas, piring, dan seperangkat peralatan dapur kotor tampak menumpuk dan berserakan di sekitarnya. Dengan lincah, dua tangannya mencuci perkakas dapur tersebut, kemudian membilasnya dengan air dari ember yang berada di sampingnya. Beberapa kali, ia harus menyibakkan rambut panjangnya yang menutupi wajah.

Maya, demikian wanita ini biasa disapa. Pagi itu, ia sibuk mencuci perkakas dapur miliknya. Ia tak sendiri. Di sisi kiri dan kanannya, sejumlah ibu-ibu juga tak kalah sibuk dengan pakaian kotor. Sesekali, terdengar tawa renyah mereka memecah kesunyian permukiman padat penduduk yang terletak di Manggarai, Jakarta Selatan ini.

Tak jauh dari mereka, Kali Ciliwung terlihat menggelora. Airnya yang berwarna kecokelatan meluap, menggenangi bantaran sungai, tempat para wanita ini mencuci baju dan peralatan dapurnya. Air sungai juga hampir menggenangi rumah warga yang hanya berjarak beberapa meter dari kali yang berhulu di Bogor, Jawa Barat tersebut.

Beberapa dari wanita tersebut menggunakan air Kali Ciliwung untuk mencuci baju dan peralatan dapur. Juga untuk mandi dan keperluan lain. Sebab, air sumur yang ada di permukiman ini sudah keruh karena terlalu dekat dengan kali.

"Dulu saya pakai air kali mas. Tapi, sekarang, saya sudah pakai pompa. Habisnya, air kali sudah semakin kotor," ujar Maya saat VIVA.co.id berkunjung ke rumahnya, Kamis, 26 November 2015.

Selain air kali dan sumur, warga juga mengandalkan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK). "Kalau tidak di MCK umum, kadang saya beli pada tukang air yang lewat. Harganya Rp15 ribu satu drum. Kalau pakai air di MCK umum, harus bayar Rp10 ribu per bulan buat perawatan," ibu dua anak ini menambahkan.

Meski demikian, ia dan warga lain masih sering menggunakan air kali. "Masih ada yang mandi pakai air kali. Tapi disaring lagi supaya bersih. Itu tidak mudah mas," ujarnya.

Maya mengaku sempat berlangganan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Namun, menurut dia, PDAM tak berfungsi dengan baik bagi masyarakat miskin macam dia.

"Kami pernah pakai PDAM. Tapi, mungkin karena kami golongan rendah, ya airnya jarang keluar kalau mau dipakai. Keluar-keluar baru tengah malam. Jadi, kami kesal karena merasa tidak diperlakukan dengan adil," ujar wanita yang sehari-hari berjualan nasi uduk ini. 

"Kami bayar kok, walau murah. Tapi, airnya susah banget keluar. Makanya warga di sini nggak mau lagi pakai PDAM. Selain itu, karena biayanya memberatkan," tuturnya.

Nasib serupa dialami Lasmi. Guna memenuhi kebutuhan air bersih, wanita paruh baya ini terpaksa harus membeli air setiap hari. Warga yang tinggal di Kecamatan Senen, Jakarta Pusat ini membeli air pada sejumlah pedagang air yang kerap melintas di depan rumahnya.

"Pakai PDAM mahal mas. Saya beli air dari abang-abang yang lewat aja biasanya. Satu drum itu 20 liter, harganya Rp20 ribu,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 26 November 2015.



Ancaman Krisis Air

Kondisi yang dialami warga Manggarai maupun Senen itu, hanya contoh kecil bahwa air kini menjadi "barang berharga". Krisis air bersih sudah terjadi di sejumlah wilayah.

Di Jakarta, wilayah yang sudah mengalami krisis air bersih terjadi di Tanjung Priok dan Pluit.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KHK) menyatakan, ada penurunan tinggi muka air tanah di Indonesia. "Kalau dulu di rumah itu ngebor katakanlah 12 meter sudah keluar air, sekarang ngebor 30 meter baru keluar air,” ujar Kepala Biro Humas KLHK, Eka Widodo Sugiri kepada VIVA.co.id, Kamis, 26 November 2015.

Menurut Eka, sumur di daerah-daerah Jakarta Utara sudah tidak ada yang air bersih. Air di wilayah itu tidak layak dikonsumsi.

Tak hanya itu, di pantai utara Jawa mulai Jakarta, Karawang, Cirebon, dan daerah-daerah lain di kawasan itu sudah mengalami kesulitan air bersih. Sebagian besar karena hilangnya mangrove di laut.

Ia mengatakan, di dalam konsep tata kota seharusnya dibangun ruang-ruang terbuka hijau, minimal 10 persen dari total luas wilayah. Upaya tersebut dilakukan untuk menyimpan air saat hujan dan agar air tak hilang ketika musim kemarau. Selain itu, membuat hutan kota dan penghijauan.

"Seperti yang disampaikan Ibu Menteri, orang nikahan, hajatan, sunatan harus menanam pohon dan seterusnya,” dia menyarankan.

Eka menuturkan, setiap tahun, air yang masuk Jakarta saat puncak musim hujan sekitar tiga miliar meter kubik. Namun, yang bisa tertampung di dalam Jakarta hanya sedikit.

"Jadi, Jakarta mestinya membuat desain penampungan-penampungan buat air. Manakala air melimpah ke sungai, tidak akan lagi ke permukiman atau ke jalan raya, tapi ada tempat transit-transit air,” dia menjelaskan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Temuan Mengejutkan BPOM dari Air Isi Ulang
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut