SOROT 372

Berebut Air di 'Bumi Mataram'

dodok mandi tanah
Sumber :
  • VIVA.co.id/Daru Waskita

VIVA.co.id - Dodok Putra Bangsa membuat heboh. Awal Agustus 2015, warga desa Miliran, RT 13, Mujamuju, Umbulharjo, Yogyakarta, itu mandi tanah di depan Hotel Fave. Aksinya menarik perhatian.

Bukan tanpa alasan. Dia prihatin, air bersih di daerahnya habis.

Selama dia hidup di Miliran, tidak pernah kehabisan air seperti ini. Bahkan, katanya, banyak warga yang tidak mandi karena air bersih sudah tidak ada lagi.

“Kalau air bersih sudah tidak ada, maka hanya tinggal tanah. Ya kami mandi pakai tanah,” ujar Dodok saat berbincang dengan VIVA.co.id, Rabu, 25 November 2015.

img_title Darurat Air Bersih

Dodok dan para warga sekitar yakin, Hotel yang berada di wilayah mereka jadi biang keladi. Kata Dodok, sejak hotel itu berdiri pada 2012, sumur penduduk Miliran mulai kering. Padahal, musim kemarau saat itu baru datang. Jadilah warga dan hotel berebut air.

"Sudah 34 tahun saya hidup di Miliran, namun tidak pernah sumur kering meski kemarau panjang terjadi. Kehadiran hotel itu, yang menyedot air permukaan, membuat sumur warga mengering," ujar Dodok.

Aksi Dodok menuai hasil ketika Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta turun ke lapangan untuk memastikan sumur mereka memang mengering. Sayang, kata Dodok, pihak BLH bersikeras bahwa kemarau panjanglah yang mengakibatkan sumur itu kering, bukan karena kesalahan Hotel Fave.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

img_title Mereka Berebut Air
Fave hotel kusumanegaran
Sejak hotel ini berdiri pada 2012, sumur penduduk Miliran mulai kering.
img_title Pasokan Air Bersih Pantai Indah Kapuk Normal Bulan Depan

Kekecewaan Dodok sedikit terobati setelah akhirnya BLH melarang Hotel Fave mengambil air tanah dan beralih menggunakan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Terbukti, kata Dodok, setelah hotel itu tak lagi memakai air tanah, sumur warga berangsur terisi kembali.

Namun, sebagai aktivis di Miliran, Dodok semakin prihatin ketika melihat banyaknya hotel dan apartemen berdiri di Kota Yogyakarta. Menurut dia, saat ini, masyarakat di sekitaran hotel-hotel selain Fave belum merasakan dampak langsung pembangunan hotel, karena memang baru beroperasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Ya tinggal menunggu waktu saja. Pasti sumur-sumur warga akan mengering," ucapnya.

Hotel Menjamur

Ketakutan warga kehabisan air bersih akibat pembangunan hotel dan apartemen juga dirasakan warga Dusun Plemburan, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, dan warga Dusun Pogung Lor Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kekhawatiran ini mereka perlihatkan dengan aksi unjuk rasa penolakan terhadap pembangunan apartemen mewah yang berada di tengah kampung mereka.

Suharyono, warga Plemburan, mengatakan pembangunan apartemen mewah dipastikan akan mengancam air bersih untuk warga. Seperti yang dirasakan warga Miliran, akibat imbas dari pembangunan hotel.

"Selama ini warga hanya mengandalkan dari sumur untuk kebutuhan sehari-hari. Jika apartemen berdiri, maka air bersih akan tersedot oleh apartemen," ujar Suharyono.

Menurut Suharyono, warga yang setuju pembangunan apartemen mewah bukanlah warga sekitar. Mereka berasal dari wilayah yang jauh dari apartemen. Terlebih, warga yang setuju itu tidak terdampak pembangunan apartemen. "Ini kan kasus klasik. Warga di luar setuju, namun dianggap semua warga setuju," katanya.

?Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Agus Subagyo, mengatakan dalam waktu dekat ini sedikitnya ada 61 hotel dan apartemen mewah yang akan dibangun di wilayah DIY. Yang terbanyak di wilayah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.

"Jika tidak diantisipasi dampaknya, salah satunya kebutuhan sumber air untuk hotel dan apartemen, maka masyarakat sekitar hotel yang akan terdampak. Sumur warga mengering,"ujar Agus.

Bahkan, dampak yang lebih parah lagi setelah beberapa tahun hotel dan apartemen beroperasi, debit air permukaan akan menurun. "Kalau warga Sleman dan Kota sumurnya mengering bagaimana nasib warga Bantul yang berada di hilir. Pasti akan lebih parah," tuturnya.

Diakui Agus, pendirian hotel memang disertai dengan perizinan pengambilan air tanah dan tidak boleh mengambil air tanah permukaan. Namun dalam kenyataannya, ada hotel dan apartemen mewah yang mengambil air tanah permukaan.

"Pengawasannya sangat sulit karena saat membangun sumur dalam tidak ada kontrol yang baik dari instansi terkait. Tahu-tahu sumur jadi dan setelah digunakan banyak sumur warga yang mengering," ujar Agus .

Wajar jika masyarakat ketakutan terhadap pembangunan hotel dan apartemen, dinilainya sangat wajar. Sebab, dalam jangka panjang, warga akan mengalami penderitaan, kesulitan air.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut