- VIVA.co.id/Daru Waskita
Pemilik hotel, lanjut Very, telah mengantongi rekomendasi teknis dari Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (PUP ESDM DIY) yang memiliki kewenangan terhadap data kuantitas air tanah.
“Untuk membuat sumur dalam, mereka tidak mengambil sendiri. Namun ada prosedur yang harus dilakukan. Untuk rekomendasi teknis kami kerja sama dengan PUP ESDM DIY,” kata Very.
Menurut Very, sumur dalam yang dimiliki Hotel Fave tidak mempengaruhi kuantitas air di sumur dangkal milik warga. Karena di kedalaman 40 meter di dalam tanah terdapat lapisan lempung setebal 6 meter yang memisahkan air di dangkal dan dalam, sehingga apabila sumur dalam disedot, tidak mempengaruhi air yang ada di sumur dangkal.
Very mengemukakan hal tersebut berdasarkan data teknis sumur dalam milik Hotel Fave yang dimiliki BLH Kota Yogyakarta. Pada 1 Oktober 2012, test pumping juga sudah dilakukan. Tes tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah saat sumur dalam disedot akan mempengaruhi air di sumur dangkal atau tidak.
“Setelah pompa dihidupkan secara terus menerus selama 8,45 jam terdapat penurunan di sumur dalam. Namun untuk sumur dangkal yang dimiliki warga tidak terjadi penurunan dan justru naik 8 cm untuk yang sebelah utara, justru ada penambahan,” ujar Very.
Terkait penyebab mengeringnya sumur dangkal milik warga, Very menilai hal tersebut bisa dipengaruhi faktor musim kemarau. Karena sumber air dari sumur dalam dan sumur dangkal berbeda. Untuk sumur dalam berasal dari resapan yang ada di Gunung Merapi, sedangkan untuk sumur dangkal berasal dari resapan air di permukaan tanah.
“Yang kedua juga bisa diakibatkan karena penggunaan air tanah di daerah tersebut, berapa kapasitas air tanah yang disedot. Karena hal ini harus dilihat secara global dan melihat kondisi sekitarnya,” kata Very. (ren)