- VIVA
"Potensinya di mana, kemasan, keramahtamahan, kebersihan. Yang masih basic atau mendasarlah, juga seperti keamanan. Itu dulu yang basic, misalnya toilet yang kelasnya internasional, kan bagus," kata dia.
Meski begitu, Triawan menambahkan bahwa saat ini Presiden Joko Widodo sedang mempercepat proyek-proyek infrastruktur dan akses transportasi di berbagai belahan Indonesia. Jadi ia optimis program tersebut dalam jangka panjang akan berdampak baik, apalagi karena desa kaya akan keragaman seni maupun komoditas.Â
Optimisme juga diungkapkan oleh Putu, Pengelola Desa Wisata Guliang Kangin. Ia yakin dari sisi informasi dan program, desa wisata mampu mendongkrak jumlah wisatawan. Hanya saja, ia dan warga desa wisata di sana belum melihat implementasinya, karena pemerintah saat ini juga merupakan pemerintah baru, sehingga hasilnya belum bisa terlihat.Â
Namun, dari segi program-program yang ditawarkan, mekanisme dan program-program garapan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, ia melihat ada harapan desa wisata akan berkembang dengan baik.
"Kalau dari workshop-nya, dari strategi-strateginya, kemudian dari keinginan untuk mendatangkan sekian juta wisatawan itu sepertinya sih ada harapan. Mudah-mudahan ke depannya bisa seperti apa yang dikonsepkan, seperti apa yang diteorikan," ujar Putu.
![]()
Salah satu desa wisata di Minahasa, Kubur Batu Waruga.
Hafid Asisi, seorang traveler asal Jakarta mengatakan bahwa infrastruktur menjadi aspek yang harus mendapat perhatian ekstra demi menjaring para wisatawan untuk singgah ke desa wisata. Ia mengaku pernah traveling ke desa wisata di Kubur Batu Waruga Airmadidi, Minahasa.
Menurutnya, potensi wisata di sana sangat baik, sayang, fasilitas menjadi kendala. Terlihat dari kondisi desa yang kurang terawat dan tak adanya akses yang memadai. Fasilitas wajib seperti toilet saja sulit.
Dari sisi wisatawan, Hafid berpendapat banyak hal yang bisa ia dapatkan dengan berkunjung ke desa wisata. Mulai dari belajar hal-hal yang belum perah ia lihat dan ketahui sebelumnya, hingga mengenal budaya masyarakat setempat yang jarang atau bahkan tidak diketahui masyarakat luas.
Pria berusia 26 tahun itu juga optimis program ini akan mendongkrak jumlah wisatawan. "Wisatawan luar cukup banyak yang menyukai desa wisata. Sayangnya, wisatawan domestik memang kurang suka. Tapi kalau fasilitasnya dilengkapi, publikasinya lebih gencar dengan menonjolkan potensi utama desa wisata, lalu aksesnya dipermudah, pasti bisa menarik perhatian wisatawan domestik," ujar Hafid, Jumat, 15 April 2016. (ms)