- VIVA.co.id/Daru Waskita
Tampak tiga pemuda cekatan membungkus kendil yang telah berisi gudeg dan siap untuk dikirim atau diambil oleh pemesannya.
"Saat bulan puasa seperti ini justru banyak pesanan untuk berbuka puasa," kata Eni Hartanto, pengelola rumah makan Gudeg Yu Djum di Wijilan.
Di jalan Wijilan bisa dikatakan sebagai pusatnya kuliner gudeg karena sepanjang 300 meter, jalan di sisi timur dipenuhi rumah makan yang menu utamanya adalah nasi gudeg khas Yogyakarta.
Dibuat dengan Bahan Pilihan
Setiap rumah makan gudeg punya pelanggan setia sendiri termasuk warung Gudeg Yu Djum yang telah menjalankan usahanya sejak 74 tahun lalu. Seiring dengan usia yang semakin tua, usaha gudeg Yu Djum makin berkembang. Anak-anaknya pun, ikut turun tangan, mengelola warung Yu Djum yang kini tak hanya ada di satu tempat saja.
Gudeg Yu Djum, punya tiga cabang, di Jalan Kaliurang Km 4,5 Karangasem CT III/22, Jalan Kaliurang Km 5, Koncoran Gang Srikaton 2 serta di Jalan Jogja-Solo sebelum Pertigaan Ring Road Maguwoharjo.
"Menggunakan bahan-bahan terbaik untuk menghasilkan cita rasa gudeg yang nikmat menjadi kunci utama dalam mempertahankan dan mengembangkan usahanya," ujar Eni menantu Yu Djum ini.
Untuk bahan baku utama membuat gudeg yaitu buah gori atau nangka harus didatangkan dari daerah yang jauh yaitu di Prembun, Jawa Tengah. Gori dari Prembun tidak mudah lembek jika dimasak dalam waktu yang lama.
"Menu tambahan lain seperti ayam juga menggunakan ayam kampung dan telur dari bebek. Kombinasi keduanya menghasilkan rasa yang lebih gurih dan nikmat," tuturnya.
Untuk menikmati gudeg Yu Djum pelanggan bisa langsung menyantapkan di tempat, atau, bisa juga dibawa pulang.Sedangkan semua harga menu gudeg sudah ada di papan ataupun kertas menu.
"Harga mulai dari Rp17 ribu hingga yang termahal paket kendil dengan harga Rp250 ribu. Semua harga dapat dilihat di menu makanan yang ada di meja," katanya.
Jadi Menu Referensi
Dengan nama besar Gudeg Yu Djum, diakui banyak orang, panganan ini sering menjadi referensi para wisatawan yang datang ke Yogyakarta. Mereka kadang sengaja datang ke Kampung Wijilan, hanya untuk menikmati gudeg. Setiap hari, jumlah pelanggan Yu Djum pun kian bertambah.