SOROT 416

Mereka yang Terbuang

Warga eks pengikut Gafatar saat diungsikan dari Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Sumber :
  • Antara/Jessica Helena Wuysang

Dibuang dan Dikucilkan

img_title Berujung Damai, Laporan Penipuan Ruben Onsu Bakal Dicabut

Bunda Ratmi, demikian ia biasa disapa mengatakan, ia sudah tujuh bulan tinggal di Subang, Jawa Barat. Ia terpaksa ‘mengungsi’ setelah pihak kelurahan tempatnya selama ini tinggal memintanya angkat kaki. Kelurahan Mekarjati, Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat melarang ia dan keluarganya tinggal di sana. Tak hanya itu, Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) nya juga diambil paksa oleh pihak kelurahan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Setali tiga uang, sikap tak ramah juga ditunjukkan para tetangganya. Sejak ia dipulangkan dari Singkawang, tetangganya selalu menatapnya dengan curiga. Bahkan, anak-anak Bunda Ratmi tak bisa bermain dengan teman sebayanya. “Bahkan, mereka langsung menutup pintu jika anak saya mau ikut nonton televisi,” ujar ibu tiga anak ini sambal berkaca-kaca.

img_title Selat Hormuz Memanas, Iran Ancam Balas Serangan AS

Berangkat dari kondisi itu, ia dan suaminya memutuskan untuk pergi dan menetap di Subang. Beruntung, suaminya punya kenalan di sana. “Dulu suami saya pernah kerja sama orang sini dan diminta bantuin ngurus kebunnya,” ujarnya menambahkan.

Suratmi tak sendiri. Tetangganya, Ucup Suharna (52) juga mengalami nasib serupa. Pria yang menjadi anggota Gafatar sejak 2011 ini harus keluar dari desanya usai dipulangkan dari Mempawah, Kalimantan Barat. “Saya dijauhi keluarga dan dikucilkan sama tetangga,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 28 September 2016.

img_title Shoei Bikin Helm yang Bisa Tampilkan GPS, Kecepatan hingga Radar di Visor

Pria yang berprofesi sebagai perupa ini mengungkapkan, sejak Gafatar divonis sebagai aliran sesat, teman-temannya menjauh. Menurut dia, tak sedikit warga yang dulu berteman baik dengan dia menjauh dan menghindar. “Akhirnya saya memilih pindah ke sini,” ujar ayah empat anak ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perlakuan yang sama juga dialami Mohamad Djarot (46). Bekas Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gafatar Kabupaten Subang ini mengatakan, anak-anaknya dicap sebagai anak orang sesat. Akibatnya, anak-anaknya tak bisa bermain dan dijauhi oleh teman-temannya. “Itu kan yang membuat saya menangis mas,” ujarnya saat VIVA.co.id berkunjung ke kebunnya di Cidahu, Subang, Rabu, 28 September 2016.

Sama seperti Ucup dan Suratmi, pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah ini juga mengaku dijauhi oleh keluarga dan warga sekitar. Warga memandangnya dengan curiga dan terus mewaspadai setiap aktifitasnya. Bahkan, hanyagara-gara membuat saung di kebun, ia dilaporkan warga ke kelurahan dengan tuduhan akan membuat keonaran. “Sampai saat ini beberapa anggota keluarga saya masih membenci saya,” ujarnya getir.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut