- Antara/Jessica Helena Wuysang
Dibuang dan Dikucilkan
Bunda Ratmi, demikian ia biasa disapa mengatakan, ia sudah tujuh bulan tinggal di Subang, Jawa Barat. Ia terpaksa ‘mengungsi’ setelah pihak kelurahan tempatnya selama ini tinggal memintanya angkat kaki. Kelurahan Mekarjati, Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat melarang ia dan keluarganya tinggal di sana. Tak hanya itu, Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) nya juga diambil paksa oleh pihak kelurahan.
Setali tiga uang, sikap tak ramah juga ditunjukkan para tetangganya. Sejak ia dipulangkan dari Singkawang, tetangganya selalu menatapnya dengan curiga. Bahkan, anak-anak Bunda Ratmi tak bisa bermain dengan teman sebayanya. “Bahkan, mereka langsung menutup pintu jika anak saya mau ikut nonton televisi,” ujar ibu tiga anak ini sambal berkaca-kaca.
Berangkat dari kondisi itu, ia dan suaminya memutuskan untuk pergi dan menetap di Subang. Beruntung, suaminya punya kenalan di sana. “Dulu suami saya pernah kerja sama orang sini dan diminta bantuin ngurus kebunnya,” ujarnya menambahkan.
Suratmi tak sendiri. Tetangganya, Ucup Suharna (52) juga mengalami nasib serupa. Pria yang menjadi anggota Gafatar sejak 2011 ini harus keluar dari desanya usai dipulangkan dari Mempawah, Kalimantan Barat. “Saya dijauhi keluarga dan dikucilkan sama tetangga,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 28 September 2016.
Pria yang berprofesi sebagai perupa ini mengungkapkan, sejak Gafatar divonis sebagai aliran sesat, teman-temannya menjauh. Menurut dia, tak sedikit warga yang dulu berteman baik dengan dia menjauh dan menghindar. “Akhirnya saya memilih pindah ke sini,” ujar ayah empat anak ini.
Perlakuan yang sama juga dialami Mohamad Djarot (46). Bekas Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gafatar Kabupaten Subang ini mengatakan, anak-anaknya dicap sebagai anak orang sesat. Akibatnya, anak-anaknya tak bisa bermain dan dijauhi oleh teman-temannya. “Itu kan yang membuat saya menangis mas,” ujarnya saat VIVA.co.id berkunjung ke kebunnya di Cidahu, Subang, Rabu, 28 September 2016.
Sama seperti Ucup dan Suratmi, pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah ini juga mengaku dijauhi oleh keluarga dan warga sekitar. Warga memandangnya dengan curiga dan terus mewaspadai setiap aktifitasnya. Bahkan, hanyagara-gara membuat saung di kebun, ia dilaporkan warga ke kelurahan dengan tuduhan akan membuat keonaran. “Sampai saat ini beberapa anggota keluarga saya masih membenci saya,” ujarnya getir.