SOROT 417

Langgam Dunia Memikat Pelancong Muslim

Menu makanan yang bisa dipesan di hotel 88 Kedungsari.
Sumber :

Dengan menargetkan usia produktif dan konsumtif, setidaknya ada 35 persen dari total populasi muslim yang bisa jadi sasaran pasar wisata muslim. Syamsul Lussa, Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Kemaritiman, mengatakan, di tahun 2015, ada sekitar 1,9 juta wisatawan mancanegara muslim yang masuk Indonesia.

img_title Festival Halal Terbesar di Indonesia, Makanan hingga Jasa Keuangan

Pada tahun 2016, pemerintah menargetkan lebih dari 2 juta wisatawan dan bahkan optimis bisa meraih 5 juta wisatawan mancanegara muslim yang berasal dari Timur Tengah seperti Arab Saudi, Kuwait, Qatar, UAE, dan juga dari Asia, seperti Malaysia, Singapura dan Tiongkok pada tahun 2019 mendatang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan jumlah wisatawan muslim yang terus bertambah, tidak mengherankan jika wisata ramah muslim atau wisata halal ini terus dikembangkan berbagai negara. Seperti yang disebutkan sebelumnya, berdasarkan hasil penilaian GMTI, posisi Indonesia berada di peringkat ke-4 setelah Malaysia, UAE, dan Turki. Jika dilihat dari jumlah penduduk muslim Indonesia yang merupakan terbesar di dunia, peringkat ini memang dirasa belum maksimal.

img_title Halal Tourism Tidak Cocok di Bali, Ini Alasannya

Namun, prestasi ini menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya di mana Indonesia berada di peringkat ke-6. Asisten Deputi Pembangunan Destinasi Wisata Budaya Kementerian Pariwisata, Lokot Ahmad Enda, mengatakan, Indonesia sebagai negara mayoritas muslim mudah mengklaim segala sesuatunya halal. Padahal, jika bicara wisata halal dunia, yang dibutuhkan wisatawan mancanegara adalah label halalnya.

"Nah, makanya sejak kita deklarasikan sebagai destinasi pariwisata halal, ranking kita yang sebelumnya di peringkat enam jadi berubah ke posisi empat ranking GMTI," ujarnya saat dijumpai VIVA.co.id.

img_title Cara Jitu Genjot Wisatawan Lewat Wisata Halal

Lokot menjelaskan, konsep wisata halal di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak tahun 2012 di mana saat itu masih menggunakan kata syariah. Namun agar lebih mudah diterima masyarakat baik muslim maupun non-Muslim, Kemenpar Arif Yahya akhirnya memutuskan untuk mengubahnya menjadi halal tourism yang mana melingkupi destinasi, restoran, juga hotelnya.

Istilah tersebut memang digunakan berbeda-beda di berbagai negara. Sebagian besar menggunakan kata muslim friendly atau ramah muslim, muslim tourism, atau bahkan islamic tourism. Namun konsep secara global sama.  "Karena kalau enggak pakai label (halal) terutama Malaysia, mereka enggak mau beli," katanya lagi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut