- VIVA.co.id/Purna Karyanto
Sally pun mulai berjualan kain mori untuk batik. Dari perajin batik, Sally banyak mendapat ilmu. "Kami jadi paham, belajar bisa dengan siapa saja dan di mana saja. Kami juga dapat ilmu tentang batik Cirebon, proses batik tulis, batik cap, dan motif batik Cirebon," kata Sally tersenyum.
Perempuan dengan tinggi 160 sentimeter ini, menyebut, selain dapat ilmu dari jual kain ke perajin, ia juga tahu cara berjualan. Sally pun memberanikan diri membawa batik dari perajin ke pasar di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali. “Ada pembagian tugas antara saya dan suami. Saya kebagian pemasaran," katanya.
Sally mengakui, cibiran kerap mereka terima. Masih dianggap muda dan nekat jadi alasan. Sejak awal menikah, sudah banyak yang tidak mempercayai dan meragukan.
Namun, banyaknya cibiran itu justru menjadi motivasi bagi Sally dan suami. Bak energi positif, mereka malah lebih bersemangat. Ingin membuktikan bahwa mereka bisa.
Tak Laku
![]()
Toko batik Sally dan Ibnu mendapat penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai toko batik terluas dengan pemilik termuda. (VIVA.co.id/Purna Karyanto)
Sally mengaku, di awal berjualan batik sempat tidak laku. "Mungkin karena kami terlalu bersemangat dan langsung action. Tanpa survei dulu, batik apa yang laku. Jualan, ya jualan aja,” tuturnya.
Pengalaman itu, akhirnya jadi pelajaran. Mereka jadi tahu, perencanaan dan tindakan harus beriringan. Tidak bisa hanya bertindak tanpa ada perencanaan.
Karena belum punya toko, bersama suami, Sally rela menempuh perjalanan hingga 30 jam untuk mengantarkan barang dagangan. Akhirnya, pada 2007, setelah modal terkumpul lagi, Sally membuka toko di rumahnya dengan ukuran 4 x 4 meter.
"Kami memasang bilboard besar, tulisannya Batik Trusmi termurah dan terlengkap,” ujarnya.
Orang pun jadi penasaran dan datang ke toko. Bila barang yang dicari tidak ada di tempat, dengan sepeda, Sally bergegas ke toko-toko untuk ambil kain.
“Kami tanggung jawab dengan apa yang sudah kami iklankan itu," tutur Sally.
Sally dan Ibnu pernah menjalankan prinsip “jemput bola”. Tak jarang, mereka bersedia ditunda pembayarannya menunggu hingga produknya laku.