- ANTARA FOTO/Amirulloh
Awalnya Iwan hendak mencari pertolongan ke Rumah Sakit MMC. Tapi niat itu urung dilakukan karena merasa tak sanggup membayar biaya pengobatan di sana. Dia pun berbalik ke motornya yang tergeletak dan beranjak menuju rumah sakit lainnya. Di tengah jalan,Iwan merasa limbung, tubuhnya lemah dan mulai gontai. Istrinya memintanya untuk berhenti, saat itu persis di Halte Perbanas ada seorang pemuda yang dia mintai pertolongan untuk mengendarai motornya.
“Saya dibawa ke Rumah Sakit Aini di Menteng sama orang itu. Dan bayangkan, sepanjang perjalanan dari depan Perbanas, istri saya itu lari-lari ikutin motor sambil pegangin belakang saya sampai Rumah Sakit Aini dalam kondisi baru kena ledakan bom dan hamil mas,” ujarnya sambil terisak.
Di RS Aini, dia tak langsung mendapatkan perawatan, walaupun kondisinya sudah darurat. Bahkan saat sudah di ruang tindakan, dokter tak mau sembarangan menanganinya. “Setelah itu dokter datang, dokter nanyain saya, bapak dari mana? Bapak tinggal di mana? Terus, siapa yang akan bertanggung jawab? Dan lain-lain. Aduh, di tengah kondisi saya seperti itu, di tengah kondisi saya penuh dengan luka, saya masih ditanyain seperti itu, sedih juga kan mas,” ujarnya mengenang.
Agar cepat, dia pun meminta dokter tak khawatir dan menjelaskan banyak kerabatnya yang tinggal di Jakarta, sehingga masalah administrasi pasti akan dilunasi.
Berbeda dengan Iwan, dari Aini, istrinya dirujuk ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan karena Halila mengalami kontraksi. Di rumah sakit itu, Halila berhasil melahirkan anak keduanya, laki-laki dengan berat 3,5 kilogram, dan dinamakan Bom Bom.
Selama menjalani perawatan, pemerintah hanya memberikan bantuan selama dua minggu. Padahal, Iwan berada di rumah sakit selama satu bulan penuh. Sisanya, dia mendapatkan bantuan dari Pemerintah Australia. Sedangkan untuk perawatan lanjutan setelah keluar dari rumah sakit, beberapa kali dibantu Australia. Perwakilan Pemerintah Indonesia malah tak pernah mengunjunginya.
“Kejadian itu tahun 2004, istri saya meninggal itu tahun 2006. Setelah kejadian itu, istri sering sakit-sakitan. Dia sering mengeluhkan sakit di kepala bagian belakang, kemudian di tulang punggung belakangnya juga. Karena sakit karena ledakan bom itu kan tidak langsung dirasain langsung saja mas. Nah, menurut dokter itu di tulang punggung belakangnya itu ada pembengkakan atau pembusukan di tulang punggungnya,” ujarnya menjelaskan.