- VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
Menaker yang juga pernah menjadi aktifis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII itu mengatakan, total jumlah tenaga kerja asal Indonesia yang saat ini berada di luar negeri adalah 6,5 juta orang. “Kita itu salah satu negara pengirim tenaga kerja ke luar terbesar di dunia,” katanya.
Hanif yang kini juga menjabat sebagai Sekjen Ikatan Alumni PMII mengatakan, para TKI itu tersebar di berbagai wilayah di seluruh dunia, mulai dari Arab Saudi, Malaysia, Hong Kong, Taiwan, Singapura, bahkan hingga Macau. “Namun negara-negara tersebut tak pernah mempersoalkan banyaknya TKI yang masuk ke negara mereka,” ujarnya menambahkan.
![]()
Menteri Hanif Dhakiri saat ditemui oleh VIVA.co.id. (Kemnaker RI)
Menurutnya permasalahan yang kerap terjadi adalah persoalan legalitas tenaga kerja. Hanya itu yang sering kali jadi masalah. Namun bukan asal negara pekerja. Soal tenaga kerja ilegal asal Indonesia paling banyak terjadi di Malaysia dan Timur Tengah.
Menurut data yang dimiliki oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia atau BNP2TKI, sepanjang tahun 2015, jumlah tenaga kerja asal China yang masuk ke Indonesia hanya berjumlah 21.000 orang, dan sedangkan total tenaga kerja asing dari seluruh negara pada tahun 2016 adalah 78.000. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibanding tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di negara-negara di Asia.
“Antara TKA dan TKI yaa pasti lebih banyak TKI. Saya kasih contoh yang di kawasan negara-negara ‘mata sipit:’ Taiwan sekitar 249 ribu, Hong Kong 180 ribu, Jepang 18 ribu dan Korsel 42 ribu. Singapura 160 ribu, dan Brunei Darussalam sekitar 80 ribu,” ujar Ketua BNP2TKI, Nusron Wahid, saat diwawancara oleh VIVA.co.id.
Gaji Lebih Besar
Banyaknya tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri dimotivasi oleh keinginan mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Gaji di negara-negara lain jauh lebih besar dari gaji dengan jenis pekerjaan yang sama di Indonesia.
“Mereka bermigrasi ke negara lain yang memberikan penghasilan lebih tinggi dengan profesi yang sama. Macam-macam, ada domestic worker, hospitality di hotel dan restoran, tenaga kesehatan, konstruksi, perikanan, oil and gas, welder dan manufaktur,” ujar Nusron.