- ANTARA FOTO/Wira Suryantala
Selain soal asuransi kesehatan, Jajat juga mengeluhkan soal perusahaan yang abai dengan risiko driver di jalanan. Ia mencontohkan saat ambil Go food. Untuk layanan ini driver harus keluar uang menalangi. Namun, tak jarang mereka ditipu. “Itu salah satu risikonya, kena tipu. Kecelakaan di jalan, tapi kan perusahaan masa bodo sama yang dialami driver di jalanan,” ujarnya mengeluh.
Selain itu, jika driver mengeluh respons perusahaan sangat lamban. Sementara jika penumpang yang komplain, perusahaan langsung turun tangan.
Terus Tergerus
Padahal semakin hari, Rahmat mengeluh, pendapatannya dari ojek online terus menyusut. Hal senada disampaikan Jajat. Menurut dia, pendapatannya terus berkurang. "Kalau dulu, sehari bisa dapat Rp500 ribu. Kalau sekarang, mau nyari Rp200 ribu saja seharian sudah susah,” ujarnya.
Jajat mengaku bingung dengan kondisi tersebut. Ia tidak tahu apakah itu terjadi karena driver ojek online semakin banyak atau karena permainan perusahaan. "Paling kalau ngadu, kantor cuma jawab, itu dari sistemnya," ujar dia.
Ia berharap, perusahaan bisa lebih baik dalam memperlakukan driver. "Harapan kita sih enggak muluk-muluk. Perusahaan jangan cuma perhatiin penumpang, kita juga diperhatiin."
Sandy juga menyampaikan hal yang sama. Ia berharap, ada perhatian khusus dari perusahaan. Menurut dia, sejauh ini kalau ada apa-apa di jalan yang paling aktif cuma sesama driver. "Kalau bisa harus ada komunitas resmi dari perusahaan yang memantau secara sistematis untuk perbaikan manajemen," ujarnya.