SOROT 476

Bermain dengan Momentum

Frida Dwi (32) pembuat game
Sumber :
  • ANTARA Foto/Andreas Fitri Atmoko

"Tahun ini targetnya US$700 juta (Rp9,4 triliun) dengan jumlah gamers sebanyak 42 juta orang. Sayangnya, dari keseluruhan game yang beredar di masyarakat, game lokal hanya menempati satu persen pasar," kata Hari.

img_title 3 Game Mobile Terpopuler di Kalangan Generasi 90-an, Nostalgia yang Masih Seru Dimainkan hingga Kini

Setidaknya ada beberapa hal yang membuat game lokal kurang mampu bersaing di Tanah Air. Pertama, talenta. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Belum banyak pengembang game lokal yang mampu membuat game rumit macam CoC, Winning Eleven, Mobile Legend, AOV maupun Football Saga. Developer Indonesia juga belum bisa membuat strategi agar game mereka bisa bertahan lama dimainkan banyak orang.

img_title Nostalgia Game Mobile 2016, Ini 5 Judul yang Dulu Bikin Pengguna HP Betah Bermain Berjam-jam

Apalagi membuat orang ketagihan dan mendatangkan pengunduh yang meningkat setiap harinya. Selain itu, kurangnya riset untuk memetakan pasar. 

"Sebanyak 50 persen dari semua program game yang dibutuhkan adalah talenta. Talenta ini bukan hanya bicara programmer, tapi juga pengalaman, dan pengetahuannya, juga skripnya, game play-nya, dan pemasarannya tentu," kata Hari.

img_title Nggak Harus HP Flagship, Ini 5 Game Mobile Gratis yang Bisa Jadi Hiburan dan Lancar di HP Kentang

Namun, Jan tidak setuju jika pemerintah menyalahkan kurangnya talenta pengembang game yang dimiliki Indonesia. Saat ini, kata Jan, sudah ada beberapa game lokal yang telah menembus pasar internasional, contohnya Dreadout dan Celestian Tales. 

Dua game tersebut dipasarkan melalui platform internasional yaitu Steam. Akan tetapi, dia mengakui bahwa publisher atau studio AAA internasional masih merajai industri ini, sebut saja Ubisoft, Bioware, dan lainnya. 

"Sebenarnya industri game di Indonesia masih sangat muda, sehingga ada keterbatasan tenaga kerja yang mengakibatkan produk-produk lokal belum mampu mencapai kualitas yang sebanding dengan luar negeri," papar Jan.

Ke Mana Mengeruk Untung?

Publisher game asing seperti Garena yang memasarkan AOV mengakui potensi game lokal cukup besar. Menurut mereka, hampir semua game yang sudah dirilis berpotensi untuk lebih dikembangkan lagi, baik dari segi strategi sustain maupun kualitas game. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sayangnya, Garena belum menggandeng satu pun developer lokal atau merilis game lokal.

"Semua game berpotensi untuk menghasilkan, ini bergantung dari developer dan publisher dari setiap game," ujar Head of Operations Garena Indonesia, Tjokro Gunawan.
 
Sejauh ini belum ada game lokal yang dirilis oleh Garena Indonesia. Namun, tidak menutup kemungkinan mereka untuk merilis game lokal Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut