- REUTERS/Mario Anzuoni
Pengamat film Shandy menyebut, Rp4 miliar sampai Rp10 miliar adalah bujet paling ideal untuk memproduksi sebuah film horor Indonesia yang bagus. Produser Sunil pun mengakui, jika Pengabdi Setan dibuat dengan bujet di atas Rp5 miliar.
"Andai kata sutradara Joko Anwar, misalnya, diberikan bujet yang sama dengan bujet pembuatan film The Conjuring (film horor Hollywood berada di kisaran US$10 juta - US$25 juta), saya percaya ia bakal bisa membuat sebuah film yang jauh lebih bagus ketimbang The Conjuring dan akan terlihat jauh lebih mahal," kata Shandy optimis dengan kemampuan sutradara Indonesia.
Â
![]()
Seorang operator film sedang mengoperasikan pemutaran film di Bogor. (REUTERS/Beawiharta)
Sementara yang terjadi, industri perfilman Indonesia lebih sering latah dengan harapan bisa mengekor kesuksesan serupa. Kontennya jadi kurang maksimal, sebab, terkesan dibuat asal jadi. Meski memang, alasan kecenderungan tren di kalangan penonton tak bisa juga diabaikan.
"Iya arahnya memang ke sana (selera penonton), tapi beberapa case yang kurang beruntung plotnya saya pelajari. Di sini kita kemas lagi gimana sih kira-kira yang bisa bikin profit, dengan konten yang kayak gimana," kata Ody Mulya, Produser film Keluarga Tak Kasat Mata.
Tugas bagi para sineas untuk terus menelurkan film-film horor berkualitas agar tak dianggap sebelah mata lagi. Horor pernah terpuruk karena mengeksploitasi tubuh wanita dan seks dengan dalih seni hingga penonton tinggal pergi. Jangan sampai itu terjadi lagi, karena gairah perfilman Indonesia, dalam genre apa pun, kini sedang tinggi.
Film horor akan selalu mendapat tempat jika produksi dan mutunya jelas kuat. Horor juga tak pernah mati, tapi jangan juga dibuat asal jadi. (ren)