SOROT 480

Gila Narsis di Media Sosial

Seorang wanita tengah di rekam menggunakan smartphone saat mencoba sebuah makanan di Hongkong, Cina.
Sumber :
  • REUTERS/Bobby Yip

Sekarang foto-foto yang diposting merupakan hasil jepretan fotografer yang mereka sewa. Kadang biayanya diambil dari kocek pribadi atau dana arisan yang dikoordinasikan saat mereka berkumpul. Namun tak jarang para fotografer itu juga yang menawarkan diri.

img_title Dua Fotografer Cabul Berkedok Casting Model Akhirnya Ditangkap, Pelaku Sembunyikan Kamera di Kamar Korban

"Ya, memang setiap foto kami itu berkonsep. Konsepnya pure dari kami semua," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia pun mengaku sangat senang bila fotonya dibilang bagus. Untuk biaya, diambil dari dompet pribadi. "Kadang kami juga kerja sama dengan fotografernya, sama stylist-nya, sama make-up-nya," kata Jessica. Baca juga: Media Sosial Ajang Narsis

img_title Punya Teman Si Paling Kerja dan Gak Jujur di Kantor? Awas, Bisa Jadi Tanda Gangguan NPD

Jadi, rata-rata mereka bekerja sama, sehingga tidak mengeluarkan banyak dana. "Stylist-nya butuh foto, fotonya butuh stylist. Kami saling silang saja gitu," ujar Jessica.

Jika Tita hanya membutuhkan fotografer Instagram dalam kurun dua bulan sekali, tidak demikian dengan Jessica. Dia mengaku fotografer yang 'mengekor' Girl Squad-nya bisa lebih dari sekali dalam sebulan. 

img_title Didit Hediprasetyo Dukung Indra Leonardi Lewat Karya 365

Apalagi saat momen arisan, ulang tahun anggota geng, baby shower, pernikahan sahabat, sampai jalan-jalan ke luar negeri.

"Itu semua untuk koleksi pribadi saja, di-upload di media sosial Instagram. Seneng banget kalau semua suka sama foto-foto yang kami unggah," ujar Jessica.

Fotografer Naik Daun

Ternyata media sosial, khususnya aplikasi berbagi foto, tidak hanya menguntungkan penggunanya. Tapi juga membuat fotografer naik daun. 

Jika di masa lalu jasa fotografer hanya dibutuhkan untuk ajang khusus yang terjadi setahun sekali, atau hanya dibutuhkan oleh pengelola media, seperti surat kabar, kini kebutuhannya menjadi lebih luas. Menghasilkan foto yang Instagrammable.

Kondisi ini dirasakan Dewi Nurcahyani, wanita yang telah menjalani profesi sebagai fotografer dalam kurun 18 tahun. Dewi merasakan karyanya lebih mudah dikenal orang. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bahkan, platform media sosial bisa dijadikan wadah untuk 'pameran foto'. Terlebih, dirinya kerap dipanggil oleh orang-orang yang ingin narsis di media sosial.

"Sebulan bisa dipanggil sebanyak tiga sampai lima kali untuk motret, untuk foto postingan di sosmed. Bayarannya, lumayanlah bisa untuk tambah-tambah beli kamera baru," ujar Dewi seraya tertawa, namun tidak menyebut tarif sewa jasanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut