SOROT 480

Mau Eksis atau Narsis?

Seorang gadis sedang selfie dengan latar lukisan mural di Jakarta
Sumber :
  • REUTERS/Agoes Rudianto

Menurut Devie, teknologi hanya menjadi arena ekspresi, sebagai kaca dari orang-orang yang sudah memiliki kecenderungan untuk menjadi narsis. Namun, apakah benar, teknologi yang mendorong seseorang memiliki karakter narsis?

img_title Snap PHK 1.000 Karyawan, CEO Sebut AI Jadi Biang Kerok

“Berdasarkan studi di Inggris, sesungguhnya bukan teknologi yang melahirkan gangguan ini, melainkan manusia memang memiliki potensi untuk berperilaku narsis,” ujar sosiolog asal Universitas Indonesia ini menambahkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi yang paling signifikan mengganggu dari narsis ini ialah tidak adanya empati. Padahal, menurut Devie, empati merupakan perekat sosial, yang membuat hubungan antara manusia menjadi terikat satu sama lain. “Ketika perekat itu hilang, yang terjadi adalah ‘kekacauan sosial’, di mana kesetiakawanan sosial hilang dan hubungan menjadi rentan.”

img_title Apa Itu Narcissistic Personality Disorder? Awas Jangan Asal Melabeli NPD!

Sementara bagi Azas Tigor, manusia memang harus eksis. Pasalnya, manusia adalah makhluk sosial. “Jadi bagi saya, eksistensi manusia itu ada. Artinya dia harus menunjukkan dia itu ada,” ujarnya.

Ingin Diakui

img_title Mengenal Istilah NPD yang Viral di TikTok: Arti, Ciri-ciri, dan Bahayanya dalam Hubungan

Menurut psikolog Klinis Arudina, setiap manusia pada dasarnya punya kebutuhan eksistensi. Karena dengan begitu ia menjadi 'ada' dan diakui lingkungan sekitarnya. Menurut dia, seiring perkembangan zaman, kebutuhan ini terfasilitasi dengan teknologi, salah satunya media sosial. “Ini kemudian yang menimbulkan narcissism. Karena akses kita untuk menampilkan diri dan menunjukkan kehidupan kita ke orang lain menjadi lebih mudah dilakukan,” ujarnya kepada VIVA.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bagi Arudina, itu merupakan sesuatu yang wajar. Karena manusia memang punya kebutuhan untuk eksis. “Jadi tidak wajar kalau sudah membuat gelisah, cemas, dan muncul perasaan tidak enak kalau tidak memposting sesuatu tentang dirinya di media sosial. Nah kalau perasaan tidak enak ini pada akhirnya mengganggu kegiatan sehari-hari, ini berarti sdh tdk wajar. Kebutuhan utk eksis tadi sdh tdk wajar dan berubah menjadi narcissism.”

Pengamat media sosial Nukman Luthfie mengatakan, narsis merupakan perilaku. “Jadi perilaku di media sosial kan nomor satu kalau sudah dishare kan mereka pengen eksis. Kalau sudah eksis kan pengennya dikenal. Dikenal apanya? Kalau dia cakep ya dikenal wajahnya,  kalau dia pintar ya dikenal kepintarannya,” ujarnya kepada VIVA

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut