Pemimpin Jangan Pengaruhi Masyarakat dengan Isu yang Bikin Terbelah

Akbar Tandjung Bicara Politik Tanah Air
Akbar Tandjung Bicara Politik Tanah Air
Sumber :
  • VIVA/Muhamad Solihin

VIVA –  Jika disebut nama Akbar Tandjung, bisa jadi ingatan publik akan langsung mengaitkannya dengan Partai Golkar. Tak salah, sebab Akbar sangat lekat dengan Partai Golkar.

Sejak masa Orde Baru, hingga pemerintahan saat ini, Akbar setia mengawal partai berlambang Pohon Beringin tersebut. Pria yang kini berusia 73 tahun itu, bahkan tak surut ketika Partai Golkar, yang di masa Orde Baru, sangat identik dengan Presiden Soeharto, presiden RI ke dua yang berkuasa selama 32 tahun.

Ketika Soeharto berhasil diturunkan dari singgasana kekuasaan, dan Partai Golkar dibenci publik, Akbar terus berjalan. Ia terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar pada tahun 1998 hingga 2004.

Masa terberat bagi Partai Golkar. Orde Reformasi yang sedang dilambungkan, membuat Partai Golkar dipandang sinis. Tetapi, Akbar tak gentar. Ia memilih fokus menjaga nama besar Partai Golkar. Ia turun ke daerah-daerah untuk memperjuangkan dan menjaga soliditas anggota partainya. 

Akbar pernah menjadi menteri di setiap presiden. Di masa Presiden Soeharto, Akbar pernah menjabat sebagai Menpora (1988-1993), lalu menjadi Menteri Perumahan Rakyat dan Permukiman Indonesia (1993-1998).

Ketika Habibie menjadi Presiden RI, Akbar sempat memegang posisi sebagai Menteri Sekretaris Negara (1998-1999). Selain menjadi menteri, Akbar juga menjabat sebagai Ketua DPR RI untuk tiga periode kepemimpinan, yaitu Presiden BJ Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, dan Presiden Megawati. Ia berada di Parlemen mulai tahun 1999 hingga 2004. 

Pria keturunan Batak yang lahir 14 Agustus 1945 ini memang gigih. Suara Partai Golkar pada Pemilu 1999, anjlok hingga 50 persen. Akibatnya, perolehan kursi untuk Partai Golkar anjlok. Namun, jumlah perolehan kursi untuk Parlemen yang sempat menurun itu berhasil dinaikkan sedikit oleh Akbar pada Pemilu 2004.