Saya Bukan Menteri yang Kaku
- VIVA/M Ali Wafa
Banyak. Yang pasti seperti program-program yang sudah rutin, program-program kerja sosial seperti PKH, BPNT. Tapi saya juga mencoba untuk memasukkan nilai-nilai baru dalam kementerian sosial.Â
Apa itu?
Kita baru launching tagline, Kemensos HADIR. Artinya, H itu Humanis, A itu Adaptif, D itu Dedikatif, I itu Inklusif, dan R itu Responsif. Ini tidak sekedar singkatan, tapi nilai-nilai yang terkandung dalam HADIR ini menurut saya adalah nilai-nilai inti core values dari Kemensos yang harus benar-benar kita jiwai. Baik itu SDM nya, Program-programnya, itu harus kembali masuk ke dalam lima core values Kemensos itu.
Bagaimana makna dari tagline itu agar bisa diimplementasikan ke depan?
Dalam setiap kesempatan tentu saya harus ingatkan ke seluruh jajaran di Kementerian Sosial. nanti kita juga akan memasang itu di semua simbol-simbol organisasi di seluruh Indonesia dan di media sosial, dan website kita. Itu untuk yang di internal. Tapi kita juga harus ingatkan, bahwa program kerja kita harus mengacu pada lima core value itu.Â
Selain itu?
Hal yang lainnya juga saya sampaikan kepada teman-teman di Kemensos, kita bekerja tidak perlu terlalu tegang, formal. Saya juga bukan seorang menteri yang kaku, sangat informal, sangat terbuka, boleh ketemu saya langsung. Mungkin kalau dulu kalau mau ketemu menteri harus lewat eselon I dulu. Kalau saya nggak sepeti itu, bebas.Â
Apakah ada PR dari Mensos sebelumnya?
Sebenarnya Menteri Sosial yang lama sebelum saya on the right track. Kebetulan Pak Agus Gumiwang itu sahabat saya juga, dan saya kenal beliau cukup lama. Beliau seorang pekerja keras, dan beliau disenangi juga di lingkungan Kementerian Sosial ini. Jadi saya meneruskan estafet dari seseorang yang saya kenal, dan seseorang yang memiliki kinerja baik, jadi enteng lah saya jadinya. Jadi gak amburadul.Â
Kalau menterinya gak bisa nyambung cepat kan kacau. Ada politiking, ada faksi-faksian yang gak bisa gabung, ada intrik-intrik. Di sini saya tidak merasakan seperti itu. Dan yang saya lakukan pertama kali, saya rangkul semuanya. Karena biar bagaimanapun juga saya tidak boleh seperti seorang pimpinan yang pokoknya Lo harus ikut gua, kalau nggak lo cabut, kan gak bisa begitu. Saya rangkul semuanya.