Wayang Ajen Tampil di Nusantara Berdendang
“Akan banyak dialog dan monolog yang sarat pesan patriotik. Tetapi semua dikemas dalam bahasa wayang yang mudah dimengerti oleh khalayak, sekalipun berasal dari daerah yang tidak mengenal komunikasi wayang,” kata Wawan.
Ketiga, lakon Sumpah Sang Satria itu sendiri cukup menggelitik. Gatotkaca saat Bharatayuda sudah memiliki spiritual tinggi. Dia dididik oleh ibunda Dewi Arimbi dan ayahnya Bima serta ajaran dan wejangan dari Prabu Kresna. Gatotkaca sadar bahwa sebagai abdi negara, dia wajib patuh terhadap perintah negara. Krisna mengangkat Gatotkaca menjadi senopati perang di Kurusetra. Sumpab sang satria Gatotkaca sampai titik darah penghabisan demi kejayaan Negara.
Gatotkaca sadar, musuh utamanya, Senopati Agung dari Astina, Adipati Karna tidak mungkin dia lawan. Dia sudah tahu sebelum berperang, bahwa dia tidak mudah mengalahkan. Tetapi semangat bela negara, demi negara, itulah yang menjadi energi paling besar untuk tetap berjuang maju.
“Bukan soal menang dan kalahnya. Tapi saya menonjolkan spirit berani maju, berani membuat tantangan, demi negara, itulah yang perlu diteladani,” kata Wawan.
Di ujung 10 menit, semua seniman berdendang bersama dengan lagu ‘Pesona Indonesia’. Lagu yang dibawakan penyanyi Rossa itu dibawakan bersama-sama dalam gerak dan gaya yang riang.
“Dulu, kita berjuang untuk membangun semangat persatuan dan kesatuan. Sekarang kita bersatu untuk mencapai target wisman 20 juta di 2016, dengan kekuatan budaya dan tradisi yang kita punya di setiap suku dan daerah. Berbeda-beda budaya itu justru semakin menguatkan kebersamaan, dan menjadi kekuatan atraksi Pariwisata Indonesia,” kata dia.
Menteri Pariwisata Arief Yahya selalu mengingatkan di berbagai kesempatan, lestarikan adat dan budaya local. Karena itulah yang akan membawa Indonesia terbang di era cultural industry atau creative industry.
“Semakin dilestarikan semakin mensejahterakan,” katanya. (webtorial)