Teater Soekarno

Kolase Foto -Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa, background teater Soekarno di Ende.
Sumber :
  • tim tvonenews

img_title Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Ini Rekam Jejak Putra Bungsu Presiden Soekarno

(Dok. Soekarno bersama para pemain teater saat menjalani pengasingan di Ende. Sumber: istimewa)

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Soekarno harus memutar otak lebih dalam karena seluruh pemain di groupnya adalah laki laki. Tidak seorang pun perempuan di Flores yang mau bermain teater karena saat itu, perempuan tak boleh tampil, lagi pula kebanyakan mereka takut dengan Soekarno.

img_title Menembus Akses Sulit di Flores

Sebuah gudang  di dekat gereja, ia sewa, lalu disulap Soekarno menjadi gedung pertunjukan sederhana bernama Immaculata. Biaya sewanya didapat dari penjualan karcis. Penonton pertunjukan Teater Kelimutu cukup loyal. Setiap pertunjukan bisa digelar selama tiga hari dengan penonton sekitar 500an orang semalam. Bahkan, orang orang Belanda yang sinis pada Soekarno pun tak jarang ada di antara kerumunan penonton. 

“Kadang kadang mereka tertawa terpingkal pingkal, kadang kadang muka mereka (Belanda) memerah oleh sindiran drama drama kami,” ujar Riwu Ga, salah satu aktor Teater Kelimutu dalam buku Riwu Ga, 14 Tahun Mengawal Bung Karno yang ditulis Peter Rohi.

img_title Bangun Mushala & Renovasi 11 Ruang Kelas di Nagekeo, Prudential Syariah Gandeng LAZ Al Azhar

Soekarno juga memikirkan segala  detail pertunjukan. Ia mendesain kostum dan mendekor panggung pertunjukan. Kemampuan melukisnya berguna saat harus menggambari dinding belakang panggung menjadi seperti hutan atau sebuah istana atau apapun kebutuhan pertunjukan. Bahkan, untuk memberi hiburan saat jeda pertunjukan, Soekarno meminta pemainnya masuk ke panggung menyanyikan lagu lagu keroncong.

(Dok. Soekarno bersama keluarga saat menjalani pengasingan di Ende. Sumber: istimewa)

Membaca kembali kisah pergulatan Soekarno dengan teater di bulan Juni ini yang dikenal sebagai Bulan Bung Karno, saya kemudian seperti terlempar ke masa kuliah di UIN Purwokerto, Jawa Tengah. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat itu lantaran keasyikan menggeluti teater, saya bahkan hampir lupa bahwa batas studi dari orang tua sudah hampir selesai (7 tahun). Saat itu, bersama sejumlah rekan lain, saya memang lebih banyak “berproses” di Teater Didik yang ikut saya dirikan, dibandingkan di kelas mengikuti perkuliahan. 

Berbagai naskah pernah kami mainkan, baik naskah standar Barat atau naskah buatan sendiri. Repertoar repertoar itu kami panggungkan tak hanya di dalam universitas, tapi juga kampus kampus tetangga seperti Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Universitas Jenderal Soedirman hingga UIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut