Flaneur

Kolase Pojok KC - Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa, background kawasan Braga bandung.
Sumber :
  • tim tvonenews

Pemilik ruko atau pedagang kaki lima juga kerap menganeksasi trotoar untuk menggelar dagangannya.  Belum lagi iklan, papan reklame, baliho ikut serta berjubel di lorong pejalan kaki. Akibatnya, jalan sebagai ruang bersama pada akhirnya telah habis dikapling kapling, diperebut untuk kepentingan pribadi. Pendeknya, jika pun ada ruang publik di selasar selasar arcade itu hanya merupakan ruang sisa belaka.

img_title Ole Romeny Kritik Permainan Timnas Indonesia: Kami Terlalu Cepat Kehilangan Bola

Tak ada yang ingin merawat kota Jakarta karena tak ada yang merasa memiliki. Semua hanya merasa singgah saja. Sebagai tempat persinggahan, semua dianggap “sementara”. Tanpa rasa kepemilikan, yang ada adalah penjarahan ruang ruang kolektif. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penyair Subagio Sastrowardojo menyinggung warga yang dipaksa menjadi terasing dalam sajak Jakartaku Jakarta:
“Adakah nasib yang lebih sengsara dari terasing di kota, pengembara kembali ingin jadi budak dan menyusu pada bunda. Yatim piatu tanpa menyapa telah menyerahkan badannya pada siapa yang tak beranak tak berbapak.”

img_title Game Klasik Gratis Ini Akhirnya Hadir di HP, Nostalgia Gamer Lama Bisa Kembali

Lebih celaka, kota seperti tumbuh tanpa pemandu, rencana induk, desain besar tata kota yang modern.  Suatu kali mantan gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan  (kini calon presiden) mengeluhkan bagaimana perencanaan transportasi publik di Jakarta ternyata antara satu moda dengan moda lainnya tak saling terhubung. Kereta listrik, busway, MRT hingga LRT ternyata infrastrukturnya tak terintegrasi, halte ataupun stasiun pemberhentiannya mengambil rute dan jalurnya sendiri sendiri. Akibatnya, warga kota jadi malas menggunakan transportasi publik karena waktu tempuhnya jadi lebih lama, mahal dan tidak nyaman.

Pada saat Anies sebenarnya  kita pernah punya harapan mengalami kota dengan cara lain: berjalan kaki dan bersepeda. Trotoar dibuat sangat lebar. Berjalan kakilah di sepanjang Jalan Cikini saat ini setelah pedestrian dibuat sangat lapang.  Kita menikmati kelampauan ruko ruko peninggalan Belanda dengan kaca-kaca jendela besar. Moda mobil di sini tak diistimewakan. Ia harus berbagi dengan warga lainnya yang ingin menikmati kota dengan bersepeda atau berjalan. Dengan ini sejatinya, kota menjadi milik siapa saja. Bukankah dengan ini demokrasi, ruang publik tercipta? 

img_title Ole Romeny Bongkar Kunci Timnas Indonesia Tundukkan Parkir Bus Singapura 2-0

Ecep Suwardaniyasa Muslimin.

Ole Romeny di laga Timnas Indonesia Vs Malaysia

Isu Laga Settingan Malaysia Vs Singapura Mencuat, Suporter Harimau Malaya Singgung 'IQ Konoha'

Suporter Timnas Malaysia memberikan respons menohok terkait tuduhan Harimau Malaya akan main mata dengan Singapura demi melangkah ke final FIFA ASEAN Cup 2026.

img_title
VIVA.co.id
1 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut