NU Versus NU

Pojok KC - Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa, background bendera NU.
Sumber :
  • tim tvonenews

Kita pasti ingat ketika NU tergelincir dalam tarian politik yang hanya mengikuti gendang penguasa pada era demokrasi terpimpinnya Soekarno. Saat itu sejarah mencatat pimpinan PBNU mengiyakan apapun kehendak Soekarno, termasuk memberinya predikat waliy al amri dharuri bi al syawkah dan menyokongnya sebagai presiden seumur hidup.

img_title 75 Tahun Prabowo 14 Kali Lolos dari Maut, Asisten Khusus Presiden Bongkar Cerita di Balik Tangis Kepala Negara

Tokoh tokoh NU dicatat memberi legitimasi moral pada tindakan Soekarno, pergantian UUD Sementara ke UUD 45 disebut Menteri Agama Wahib Wahab sebagai hijrah dari sistem kapitalisme ke sosialisme, konsepsi politik Soekarno ditabalkan sebagai ijtihad, termasuk yang paling muskil “ganyang Malaysia” karena dalam hal pemikiran dan praktek agama warga Malaysia sangat dekat dan belajar banyak dari NU.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tapi, sudah, tak usah tegang, rileks saja. NU bukan ormas kacangan, organisasi ini bukan entitas sosial-politik kemarin sore. Ormas yang semula bergerak di bidang sosial pendidikan berdiri sejak 31 Januari 1926, sudah seabad usianya.

img_title Rocky Gerung Ingin Sapu Bersih Istana dari Para Koruptor: Orang-orang Munafik Banyak di Sana

Lagipula sejak kapan NU adem ayem terus menerus? Dalam sejarahnya NU sangat piawai mengelola konflik. Organisasi ini sangat lentur berhadapan dengan tekanan, ancaman, hambatan baik dari luar maupun dari dalam. Almarhum H Choirul Anam pernah mencatat sejarah panjang konflik di tubuh NU dalam buku 'Membanding Ulah GPK Abu Hasan (1996). Ada konflik Subchan versus KH Idham Chalid, KH Achmad Sjaichu versus KH Idham Kholid. Cipete versus Situbondo dan mufaraqahnya KH As'ad Samsul Arifin dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Yang tak main-main terjadi di zaman Orde Baru. Persisnya terjadi saat Muktamar ke-29 di Cipasung Tasikmalaya.  Saat itu karena perbedaan sudah sangat tak bisa didamaikan bahkan telah muncul KPPNU sebagai tandingan PBNU.

img_title Pesan Titiek Soeharto untuk Prabowo yang Ultah ke-75: Selamat Ulang Tahun Mas Bowo

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di era reformasi Muktamar NU juga tidak sepi dari konflik seperti Muktamar ke 31 di Boyolali antara KH Abdurrahman Wahid versus KH Hasyim Muzadi dan Muktamar NU ke-33 di Jombang antara KH Hasyim Muzadi versus KH Said Aqil Siroj. 

Terbaru, yang mungkin masing hangat dalam ingatan adalah Muktamar ke-34 NU di Lampung. Kali ini dinamika disebabkan perbedaan figur calon Ketua Umum PBNU. Munculnya calon ketua umum PBNU KH Said Aqil Siroj (petahana) yang ingin dipertahankan oleh pendukungnya berhadapan dengan kelompok pendukung Katib Aam KH Yahya Cholil Staquf yang menghendaki regenerasi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut