Ratu Adil

Pojok KC - Kolase Foto Prabowo Subianto
Sumber :
  • tim tvonenews

Barangkali karena itu Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir, orang yang selama ini menempatkan diri sebagai guru bangsa menyebut kemenangan dalam kontestasi politik, sebenarnya bukan kegembiraan melainkan justru menjadi sebuah kewajiban, tanggung jawab dan beban yang berat. Pemenang harus punya kerendahan hati, jiwa negarawan untuk merangkul semua.

img_title Prabowo Akan Hadiri Peringatan Seabad Gontor

"Hal yang terbesar dari agenda para pemegang mandat itu adalah menjalankan konstitusi dan membawa Indonesia menjadi negara yang betul-betul merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Artinya negara yang progresif maju," kata Haedar. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Apa yang disebut Haedar tentang negara yang betul-betul merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, dalam masyarakat Jawa disebut zaman Ratu Adil.

img_title TVS Temui Prabowo, Bawa Rencana Motor Listrik dan Etanol

Sastrawan dan rohaniawan Sindhunata belum lama merilis edisi bahasa Indonesia dari buku disertasinya pada di Hochschule fur Philosophie, Philosophische Fakultat SJ di Munchen, Jerman tentang sejarah wong cilik (rakyat kecil) mendamba ratu adil dalam kosmologi Jawa. 

img_title 4 Jurus Prabowo Agar Rakyat Punya Rumah, KPP hingga BPHTB Gratis

Menurut Sindhunata, Ratu Adil adalah tradisi mesianisme Jawa yang laten. Lahir dari sejarah perlawanan rakyat terhadap penindasan kolonialisme dan imperialisme penjajah, mereka ingin bebaskan diri dari penderitaan dengan caranya sendiri. Harapan akan datangnya zaman Ratu Adil jadi semangat, elan vital dalam hidup rakyat dari zaman ke zaman.

Dari sejarah kita tahu perlawanan dan pemberontakan rakyat kecil itu pada kesewenangan kolonial memang kerap berakhir dengan kegagalan. Namun, kegagalan ini tak menghilangkan dan meniadakan harapan yang tersimpan dalam perlawanan mereka. Harapan itulah yang harus kita rawat terus sampai kini. 

Soekarno muda, ujar Sindhunata, misalnya adalah seorang intelektual yang bisa menangkap ide Ratu Adil itu sebagai harapan seluruh rakyat Indonesia. Sebelum diasingkan ke pembuangan, di hadapan sidang hakim-hakim kolonial, ia memaparkan pidato pembelaannya yang terkenal berjudul ”Indonesia Menggugat” (18 Agustus 1930).

Di sana tampak Soekarno menangkap Ratu Adil bukan sebagai mitos atau khayalan, tapi sebagai ”harapan” yang riil ada di dalam hati wong cilik yang menderita dan mencita-citakan pembebasan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

”Kalau rakyat mengira Ratu Adil itu telah muncul, itu tak lain tak bukan karena hati rakyat yang menangis itu, tak henti-hentinya, tak habis-habisnya menunggu-nunggu atau mengharap-harapkan datangnya pertolongan, sebagaimana orang yang berada dalam kegelapan tak henti-hentinya pula saban jam, saban menit, saban detik, menunggu-nunggu dan mengharap-harap: 'kapan, kapankah matahari terbit?'”

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut