Memang Selalu Demikian, Anies!

Pojok KC - Kolase Foto Anies baswedan
Sumber :
  • tim tvonenews

MEMANG selalu demikian Anies Baswedan, setelah perjuangan tak selamanya kesetiaan yang akan datang. Engkau akan terus saksikan satu persatu jalinan yang rekat dalam kerja kerja politik, satu persatu akan lepas dengan berbagai dalih dan pertimbangan.

img_title Deretan Fakta Berpulang Guruh Soekarnoputra, Putra Bungsu Soekarno yang Dikenal Lewat Seni dan Politik

Karena di sini politik didesain hanya untuk para pemenang, tak ada yang akan menemani yang kalah. Maka itu, tak ada batas, garis, demarkasi antara "putih" dan "hitam" semua dibiarkan menjadi "abu-abu", seperti kelompok arisan, setelah kontestasi lima tahunan yang saling serang dan “brutal,” kini semua menjadi bagian pihak pemenang. Semua menjadi satu kembali, seperti tak pernah ada yang serius sebelumnya. Sebab, semua partai politik  menunggu pembagian “kue” yang akan dilakukan oleh sang pemenang. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dan pihak yang kalah bukan hanya tak bisa mengembangkan barisan sendiri sebagai penyeimbang kekuasaan, oposisi, tapi bahkan harus digergaji layarnya sehingga bahteranya kandas.

img_title Rumahnya Diselimuti Abu Vulkanik, Anies Baswedan Bagikan Tips Penting untuk Warga

Demikian Anies menghadapi kenyataan dijegal berkali kali hanya karena ia potensial menjadi barisan penyeimbang, oposisi, sesuatu yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk membuat politik kembali sehat dan punya manfaat untuk publik. 

img_title Menhut Raja Juli Bilang 'Asap Tak Punya KTP', Anies Langsung Nostalgia: Harusnya Dulu Saya Daftarkan Hak Cipta

Penjegalan pertama kali ketika pihak penguasa dengan berbagai cara---dengan tawaran jabatan atau tekanan hukum--berhasil menghimpun 12 partai politik untuk "hanya" mendukung Ridwan Kamil dan Suswono.
Saat itu satu partai yang tersisa, PDI Perjuangan tak mampu lagi berbuat apapun. Dengan belenggu aturan ambang batas minimal, pasangan Ridwan Kamil dan Suswono saat itu hanya akan berhadapan dengan kotak kosong. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Untuk mengesankan demokrasi telah ditempuh, seorang “calon boneka” diciptakan untuk menjadi lawan. Caranya melalui jalur independen dengan mengumpulkan KTP dukungan yang kemudian kita tahu ternyata banyak yang diperoleh dengan cara tak semestinya. 

Lalu tiba tiba ada “gempa politik”. Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan No.60/PUU-XXII/2024 yang menurunkan ambang batas pencalonan kepala daerah di DPRD. Putusan ini seperti membuka jendela untuk kamar yang dibiarkan pengap selama sekian lama. Udara segar tiba tiba masuk lewat daun jendela, menggairahkan kembali kompetisi politik di daerah-daerah. Partai semacam PDI Perjuangan yang tadinya “pasrah” karena tak bisa mengajukan pasangan calon kepala daerah kini bisa saja mengusung Anies sendirian. Toh hanya butuh dukungan 7,5 persen suara. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut