Membayangkan Republik

Kolase Foto - Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa, background sketsa Karaeng Patingalong
Sumber :
  • tim tvonenews

Parpol-parpol menempatkan figure kunci-nya di Jawa. Ribuan calon anggota legislatif akan bertarung sangat ketat di Jawa, termasuk saling sikut antar calon dalam satu partai. Hingga kini calon wakil presiden yang paling dicari, paling dianggap menentukan dalam kompetisi, bisa menambah suara signifikan, adalah yang berasal dari Jawa.

img_title Anggaran Rp 5,3 Triliun Buat Lanjutkan Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif di IKN

Kepada Rocky Gerung, Luhut Pandjaitan dalam sebuah siniar menyebut, calon presiden yang bukan orang Jawa sebaiknya jangan memaksakan diri. Sebab, “Jawa adalah kunci,” begitu kutipan paling populer dari sebuah film propaganda G30S PKI.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tetapi, apakah ada Jawa yang satu, tunggal, monolitik? 

img_title Prabowo Puji Kinerja Lembaga Legislatif, Selesaikan 13 RUU hingga Himpun 10.883 Aspirasi

Saat kuliah di UIN Purwokerto saya menemukan Jawa yang lain. Teman-teman saya yang berbahasa Jawa Ngapak misalnya, ekspresi, cara berpikirnya, praktek kehidupan sehari-harinya terasa tidak dekat dengan pusat kebudayaan Jawa: Solo atau Yogyakarta

Mereka justru merasa dekat dengan Jawa pesisir, Tegal, Pekalongan, Brebes, Tuban, Demak. Saya merasakan ada Jawa yang lain, Jawa yang terbuka, egaliter, kosmopolit. 
 
Kita juga ingat, budayawan Rendra pernah menyebut kebudayaan Jawa di “pusatnya” sebagai “kasur tua”, feodal, mandeg dan tak sesuai lagi dengan pertumbuhan pribadi dan pergaulan kreatif.

img_title 13 Game PC Modern yang Punya Gameplay untuk Bernostalgia, Bisa Dimainkan Bersama Teman Lama

“Mereka hanya paham tradisi Jawa Baru, yaitu tradisi-tradisi kebudayaan raja-raja boneka dan bupati-bupati angkatan yang berjiwa feodal, tetapi tidak punya darah Aristokrat. Mereka anggap tradisi kebudayaan Jawa Baru itu pusaka leluhur, padahal paling jauh itu dari permulaan abad delapan belas,” gugat Rendra dalam buku Mempertimbangkan Tradisi.

Tidak bisa tidak agaknya afirmasi politik Indonesia pada kerajaan Jawa pedalaman yang tertutup, Despotis dan Absolut harus diganti dengan bacaan ulang pada kebudayaan kerajaan pesisir yang pernah berjaya di Nusantara. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

(Dok. Pidato pertama Joko Widodo sebagai Presiden pada 20 Oktober 2014, di atas sebuah kapal di pesisir Jakarta. Sumber: ANTARA)

Pada pidato pertamanya sebagai Presiden pada 20 Oktober 2014, di atas sebuah kapal di pesisir Jakarta, Jokowi pernah mengatakan, “Kita sudah lama memunggungi lautan”. Sayang hingga tinggal setahun setengah jabatan Presidennya akan berakhir, praktek kekuasaan Jokowi tetap memungungi lautan. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut