Langkah Militer Turki Usai Ditendang Amerika dari Program Jet Siluman
- Voice of America
VIVA – Militer Turki akan segera memiliki pesawat tanpa awak (drone) baru dengan teknologi super canggih. Drone yang akan dibuat Turki nantinya akan jauh lebih canggih dari yang dimiliki saat ini, Bayraktar. Langkah ini diambil menyusul keputusan Amerika Serikat (AS) menangguhkan keikutsertaan Turki dalam program jet tempur siluman F-35 Lightning II
Dalam berita VIVA Militer sebelumnya, Turki dijatuhkan sanksi AS atas program jet tempur siluman F-35 sebagai akibat dari kerjasama yang dilakukan dengan Rusia.Â
Amerika tak senang dengan keputusan Turki untuk membeli rudal sistem pertahanan udara S-400 Triumf dari Rusia, dan menegaskan bahwa pesawatnya takkan bisa berdampingan dengan senjata canggih Negeri Beruang Merah itu.
Sebagai antisipasi terkait sanksi AS, Turki pun melakukan upaya lain dengan membuat drone super canggih terbarunya. Menurut laporan Al-Monitor, belum diketahui apa nama drone super canggih terbaru Turki itu.Â
![]()
Hanya saja pada 14 Agustus 2020, Turki menyebut bahwa pesawat tanpa awak ini adalah prototipe kedua dari varian drone Akinci, atau dalam Bahasa Indonesia berarti "sang penjarah".
Kabarnya, drone canggih militer Turki terbaru ini akan memiliki daya tahan hingga 24 jam dengan radius operasional mencapai 600 kilometer, atau setara dengan 373 mil.
Yang lebih gila lagi, drone ini akan memiliki kemampuan terbang dalam ketinggian 40.000 kaki, atau lebih dari 12.000 meter. Dengan kemampuan itu, drone tempur baru militer Turki akan punya kualitas lebih canggih daripada yang dimiliki saat ini, Bayraktar.Â
Menurut data yang dikutip VIVA Militer dari Airforce-Technology, drone Bayraktar hanya mampu terbang dengan ketinggian maksimal 22.500 kaki (6.858 meter).
![]()
Tak hanya itu, senjata baru militer Turki ini nantinya akan jadi salah satu dari empat drone, dengan kemampuan tebang tertinggi di dunia. Saat ini, drone dengan kemampuan terbang tertinggi saat ini dipegang oleh Zephyr Stratospheric UAV milik militer Inggris, yang mampu terbang dengan ketinggian 70.000 kaki (21.336 meter).
Di bawah Zephyr Stratospheric UAV, ada pesawat tanpa awak buatan AS, Global Observer Stratospheric Persistent UAS, yang mampu terbang dengan ketinggian 65.000 kaki (19.812 meter). Di posisi ketiga, diduduki juga oleh drone buatan Amerika, RQ-4 Global Hawk yang mampu terbang dengan ketinggian 60.000 kaki (18.288 meter).