Awas, Prajurit Marinir yang Tebang Pohon Sembarangan Siap-siap Dihukum

VIVA Militer: Kepala Staf TNI Angkatan Laut bersama pasukan Taifib Korps Marinir
VIVA Militer: Kepala Staf TNI Angkatan Laut bersama pasukan Taifib Korps Marinir
Sumber :
  • Facebook/Marinir TNI Angkatan Laut

VIVA – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono baru saja mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh jajaran TNI Angkatan Laut. Instruksi KSAL kali ini terkait dengan menjaga kelestarian alam yang ada di sekitar lingkungan Markas dan komplek perumahan TNI Angkatan Laut.

Ya, Laksamana TNI Yudo Margono sangat memperhatikan lingkungan yang ada disekitar komplek baik perumahan maupun Markas TNI Angkatan Laut. Sampai-sampai, dia mengancam akan memberikan sanksi tegas kepada prajurit TNI Angkatan Laut yang bertindak sembarangan menebang atau memotong pepohonan yang ada di sekitar komplek perumahan maupun Markas TNI Angkatan Laut di seluruh Indonesia.

Dilansir VIVA Militer dari keterangan resmi Korps Marinir TNI Angkatan Laut, Senin, 29 November 2021, Dinas Penerangan Korps Marinir TNI Angkatan Laut telah menerbitkan Surat Instruksi Nomor : 13/XI/2021/Dispen tentang Larangan Menebang Pohon.

Dalam surat tersebut ditegaskan, bahwa kepada para pejabat Satuan Korps Marinir agar menekankan kepada jajaran dan bawahannya untuk tidak menebang pohon di lingkungan Markas maupun Kompleks perumahan TNI Angkatan Laut tanpa seijin Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal).

"Tidak menebang pohon ulangi tidak menebang pohon," kata KSAL Laksamana TNI Yudo Margono dalam pernyataannya yang disampaikan secara langsung pada hari Minggu, 28 November 2021 kemarin.

KSAL menegaskan, pohon-pohon yang ada di lingkungan markas maupun Komplek Perumahan TNI Angkatan Laut sudah ditanam bertahun-tahun oleh para pendahulu. Oleh karena itu, salah satu kewajiban para prajurit TNI Angkatan Laut yang saat ini masih aktif adalah menjaga dan melestarikan lingkungan di sekitar markas maupun Komplek perumahan dengan tidak menebang pohon-pohon tersebut sembarangan.

"Pohon-pohon tersebut ditanam bertahun-tahun oleh para pendahulu, sementara kita generasai penerus yang tidak tahu sejarahnya, dengan mudah menebang tanpa ada alasan yang jelas. Bila ada yang melanggar agar dijatuhi hukuman," ujar Kasal menegaskan.