Cuan Industri Mobil China Semakin Tergerus

Mobil China Honri Hongri S1 dan X9
Sumber :
  • Istimewa

Beijing, VIVA – Industri otomotif China tengah menghadapi paradoks besar sepanjang 2025, ketika volume penjualan tumbuh namun keuntungan justru semakin tertekan. Cuan dari penjualan mobil terus menurun seiring margin laba yang mendekati level terendah dalam sejarah.

img_title Mencoba Land Cruiser FJ di Gumuk Pasir, Karakternya Beda

Berdasarkan data China Passenger Car Association yang diterima VIVA Otomotif Senin 29 Desember 2025, margin keuntungan industri otomotif China periode Januari hingga November 2025 hanya mencapai 4,4 persen. Angka ini menjadi yang terendah kedua setelah rekor terendah 4,3 persen yang tercatat pada 2024.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jika ditarik lebih panjang, margin laba industri mobil China menunjukkan tren penurunan konsisten sejak 2017. Dari 7,8 persen pada 2017, margin tersebut terus merosot hingga berada di bawah 5 persen dalam dua tahun terakhir.

img_title Beli Mobil Bekas Rp50 Juta, Sisihkan Dana Segini agar Bisa Dipakai Harian

Pada 2025, fluktuasi margin terjadi hampir setiap bulan, dengan titik terendah tercatat pada Agustus sebesar 3,4 persen. Meski sempat naik di Juni hingga 6,9 persen, tekanan kembali muncul akibat persaingan harga yang agresif.

Secara nominal, pendapatan industri otomotif China sebenarnya masih mencatatkan pertumbuhan. Total pendapatan sepanjang Januari hingga November 2025 menembus 10 triliun yuan (sekitar Rp22.300 triliun), atau tumbuh 8,1 persen secara tahunan.

img_title Bukan Pengganti Fortuner, Ini Posisi Land Cruiser FJ di Lineup Toyota

Namun di sisi lain, biaya produksi dan operasional justru tumbuh lebih cepat. Total biaya industri naik 9 persen menjadi 8,84 triliun yuan (sekitar Rp19.700 triliun), sehingga ruang keuntungan semakin tergerus.

Tekanan biaya datang dari berbagai sisi, mulai dari fluktuasi harga bahan baku baterai hingga kenaikan biaya tenaga kerja. Kondisi ini membuat rata-rata pendapatan per kendaraan mencapai 322 ribu yuan (sekitar Rp720–730 juta), tetapi laba kotor per unit hanya sekitar 14 ribu yuan (sekitar Rp31–32 juta).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Persaingan internal juga menjadi faktor utama menurunnya cuan industri. Perang harga yang awalnya terjadi di segmen kendaraan listrik kini merembet ke mobil bermesin bensin.

Dampaknya terlihat jelas pada kinerja pabrikan besar seperti Great Wall Motor. Meski pendapatan naik hampir 8 persen dalam tiga kuartal pertama, laba bersih justru turun sekitar 17 persen akibat biaya distribusi dan tekanan harga.

Presiden AS Donald Trump bersama Presiden China Xi Jinping.

Trump Buka Pintu Mobil China Masuk Amerika

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka peluang bagi produsen mobil China untuk membangun kendaraan di Negeri Paman Sam. Tapi, ada satu syaratnya.

img_title
VIVA.co.id
15 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut