Mitsubishi Xforce Punya “Insting” Hindari Tabrakan, Begini Cara Kerjanya
- VIVA/Yunisa Herawati
Jakarta, VIVA - Keselamatan berkendara kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan sudah menjadi kebutuhan utama, terutama di tengah lalu lintas perkotaan yang padat dan dinamis. Kondisi jalan yang kerap tidak terduga menuntut produsen otomotif menghadirkan teknologi yang mampu membantu pengemudi mengurangi risiko kecelakaan. Salah satunya seperti yang dihadirkan pada Mitsubishi Xforce melalui fitur keselamatan aktif modern.
Model yang pertama kali diperkenalkan di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show 2023 ini memang dikembangkan khusus untuk pasar ASEAN. Mengusung konsep “Best-suited buddy for an exciting life”, Xforce hadir sebagai compact SUV lima penumpang dengan karakter stylish, robust, sekaligus fungsional untuk penggunaan sehari-hari.
Seiring pengembangannya, Mitsubishi menghadirkan varian tertinggi yakni Xforce Ultimate with Diamond Sense (Ultimate DS), yang diperkenalkan pada Gaikindo Jakarta Auto Week 2024. Varian ini membawa peningkatan signifikan dari sisi keselamatan berkat teknologi Diamond Sense, yakni rangkaian fitur bantuan pengemudi yang lebih lengkap.
Komunitas Mitsubishi Xforce
- XFOC
Salah satu fitur unggulan dalam paket tersebut adalah Forward Collision Mitigation (FCM), yang berfungsi sebagai sistem pencegah tabrakan dari arah depan. Teknologi ini menjadi bagian penting dalam sistem Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) yang kini semakin banyak digunakan pada mobil modern.
Brand Ambassador Mitsubishi Motors Indonesia, Rifat Sungkar menjelaskan bahwa FCM bekerja dengan prinsip serupa sistem ADAS lainnya.
“Sistem kerjanya itu nggak beda sama ADAS manapun. Dia punya sensor di spion depan, bagian atas yang selalu membuat radar ke depan. Sensor itu terhubung dengan sistem pengereman,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Selasa 17 Maret 2026.
Secara teknis, FCM memanfaatkan kombinasi kamera dan radar yang terpasang di bagian depan kendaraan. Sistem ini akan terus memantau kondisi jalan dan mendeteksi objek di depan, seperti mobil atau sepeda motor. Ketika jarak dinilai terlalu dekat dan berpotensi menimbulkan tabrakan, sistem akan memberikan peringatan visual dan suara kepada pengemudi.
Jika pengemudi tidak merespons, maka sistem secara otomatis akan mengaktifkan pengereman. Dalam kondisi tertentu, fitur ini bahkan mampu menghentikan kendaraan sepenuhnya atau setidaknya mengurangi dampak benturan.