Mobil Konvensional Mulai Kena Mental, EV Makin Bringas

Ilustrasi mobil listrik / cas kendaraan listrik
Sumber :
  • VIVA/Krisna Wicaksono

Jerman, VIVA - Pasar kendaraan listrik di Jerman mulai menunjukkan perubahan signifikan sepanjang 2026. Untuk pertama kalinya sejak pandemi, semakin banyak warga Jerman memilih meninggalkan mobil bermesin bensin dan diesel lalu beralih ke kendaraan listrik.

img_title Mobil Listrik Makin Ramai, Pabrik Komponen Lokal Ikut Ketiban Rezeki

Perubahan ini disebut dipicu program subsidi besar-besaran yang diberikan pemerintah Jerman sejak awal tahun. Bantuan tersebut mampu memangkas harga mobil listrik baru hingga 6.000 euro atau setara lebih dari Rp124jutaan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dilansir VIVA dari Automotive News, Kamis 28 Mei 2026, berdasarkan survei terbaru perusahaan asuransi HUK-COBURG, sebanyak 7,5 persen pemilik mobil yang mengganti kendaraannya pada kuartal pertama 2026 memilih membeli mobil listrik. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak survei dimulai pada awal 2020.

img_title Pramono Atur Tarif RSUD di Jakarta, Warga Mampu Tak Bakal Dapat Subsidi

Sebagai perbandingan, pada kuartal sebelumnya jumlah konsumen yang beralih dari mobil konvensional ke EV masih berada di angka 6,3 persen.

Kenaikan tersebut memperlihatkan bahwa insentif pemerintah mulai berhasil mengubah pola konsumsi masyarakat terhadap kendaraan rendah emisi.

img_title China Pangkas Insentif Mobil Listrik

Sekitar seperlima responden mengaku subsidi menjadi alasan utama mereka membeli mobil listrik. Bahkan lebih dari 10 persen responden mengatakan bantuan tersebut membuat mereka mulai tertarik mempertimbangkan EV untuk pertama kalinya.

Program bantuan ini diluncurkan pemerintahan Kanselir Jerman Friedrich Merz melalui paket insentif senilai 3 miliar euro untuk periode 2026 sampai 2029.

Berbeda dengan program sebelumnya yang lebih terbatas, subsidi kali ini menyasar masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah. Pemerintah berharap langkah tersebut dapat mempercepat transisi kendaraan ramah lingkungan sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Insentif tidak hanya diberikan untuk mobil listrik murni, tetapi juga kendaraan plug-in hybrid dan model dengan teknologi range extender.

Langkah itu sekaligus menjadi strategi pemerintah menjaga industri otomotif Jerman yang sedang menghadapi tekanan besar dari berbagai sisi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pabrikan Eropa saat ini tengah menghadapi kompetisi ketat dari merek-merek China yang semakin agresif di pasar kendaraan listrik global. Di sisi lain, biaya energi yang tinggi membuat biaya produksi kendaraan di Eropa ikut meningkat.

Belum lagi regulasi emisi karbon Uni Eropa yang semakin ketat memaksa produsen otomotif mempercepat pengembangan kendaraan elektrifikasi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut