Mobil Konvensional Mulai Kena Mental, EV Makin Bringas
- VIVA/Krisna Wicaksono
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah produsen otomotif Eropa bahkan terus melobi Uni Eropa agar aturan emisi dibuat lebih fleksibel karena permintaan EV dinilai belum stabil.
Selain persoalan regulasi, industri otomotif Eropa juga dinilai masih tertinggal dalam rantai pasok baterai lokal. Kondisi birokrasi yang rumit turut membuat pengembangan industri EV berjalan lebih lambat dibanding China.
Di tengah situasi tersebut, kenaikan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah ikut mendorong masyarakat mulai melirik kendaraan listrik sebagai alternatif mobilitas harian.
Anggota dewan HUK-COBURG bidang asuransi kendaraan, Jorg Rheinlander, mengatakan subsidi pemerintah kini mulai terasa dampaknya di kelompok konsumen sasaran.
Menurut dia, tren peralihan ke mobil listrik berpotensi meningkat lebih cepat apabila subsidi nantinya juga mencakup mobil listrik bekas.
Program subsidi saat ini memberikan bantuan mulai dari 1.500 euro hingga 6.000 euro, tergantung jenis kendaraan, penghasilan keluarga, dan jumlah anggota rumah tangga.
Pemerintah Jerman memperkirakan dana yang sudah disiapkan cukup untuk membantu pembelian sekitar 800 ribu kendaraan hingga 2029.
Survei HUK-COBURG sendiri dilakukan menggunakan data dari 14,5 juta kendaraan yang diasuransikan dan melibatkan sekitar 4.000 responden melalui survei online.
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: harga masih menjadi faktor penentu utama dalam percepatan adopsi kendaraan listrik. Ketika pemerintah turun tangan membantu biaya pembelian, masyarakat mulai lebih berani meninggalkan mobil konvensional.