Mobil Listrik 1.000 Km Makin Dekat

Ilustrasi pabrik baterai mobil listrik.
Sumber :
  • Electrek

China, VIVA- Perlombaan mengembangkan baterai generasi berikutnya untuk mobil listrik terus berlangsung. Terbaru, tim peneliti dari Chinese Academy of Sciences (CAS) mengklaim berhasil menciptakan material elektrolit baru yang dapat meningkatkan umur pakai baterai solid-state, teknologi yang selama ini digadang-gadang menjadi kunci lahirnya mobil listrik berjarak tempuh sangat jauh.

img_title As Roda Belakang Chery Omoda 5 Copot, Bos Besar Chery Sampai Minta Maaf

Dilansir VIVA Otomotif dari Carnewschina, Senin 22 Juni 2026, baterai solid-state dianggap sebagai penerus baterai lithium-ion yang saat ini digunakan sebagian besar kendaraan listrik. Teknologi ini menawarkan sejumlah keunggulan, mulai dari tingkat keamanan yang lebih baik, kepadatan energi lebih tinggi, hingga potensi menghadirkan jarak tempuh yang jauh lebih panjang dalam sekali pengisian daya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satu kendala terbesar dalam pengembangan baterai solid-state adalah menjaga stabilitas material di dalam sel baterai agar performanya tidak cepat menurun setelah digunakan berulang kali.

img_title Geely Tindak Lanjuti Keluhan EX2, Mobil Listrik yang Gak Bisa Ngecas

Peneliti dari Dalian Institute of Chemical Physics, yang berada di bawah CAS, mengembangkan elektrolit gel komposit baru yang menggabungkan material organik dan anorganik. Pendekatan tersebut dirancang untuk menciptakan jalur perpindahan ion lithium yang lebih efisien sekaligus menjaga fleksibilitas struktur material.

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, baterai yang menggunakan teknologi tersebut mampu mempertahankan 84,15 persen kapasitasnya setelah melewati 350 siklus pengisian dan pengosongan daya. Angka tersebut menunjukkan tingkat degradasi yang relatif rendah dibanding sejumlah material pembanding yang selama ini digunakan dalam riset baterai solid-state.

img_title Jajal Leapmotor C10, Ada yang Beda dari SUV Listrik Ini

Selain itu, sel baterai yang diuji juga mampu beroperasi stabil selama lebih dari 2.500 jam dalam pengujian berkelanjutan. Hasil tersebut menjadi salah satu indikator bahwa teknologi baterai solid-state mulai menunjukkan kemajuan yang signifikan dari sisi ketahanan.

Meski masih berada di tahap penelitian, perkembangan ini menarik perhatian industri otomotif. Pasalnya, baterai solid-state diyakini dapat membuka jalan bagi kendaraan listrik dengan jarak tempuh yang jauh lebih panjang dibanding teknologi baterai saat ini.

Sejumlah produsen otomotif China bahkan mulai menyiapkan langkah menuju komersialisasi. Dongfeng, misalnya, menargetkan produksi massal baterai solid-state pada paruh kedua 2026. Teknologi tersebut diklaim mampu mendukung kendaraan listrik dengan jarak tempuh hingga 1.000 kilometer dalam satu kali pengisian daya.

Jika target tersebut tercapai, maka salah satu kekhawatiran utama calon pengguna mobil listrik, yakni kecemasan kehabisan daya di tengah perjalanan atau range anxiety, dapat berkurang secara signifikan.

Namun demikian, sejumlah pelaku industri masih memandang teknologi ini dengan hati-hati. Produsen baterai terbesar dunia, CATL, sebelumnya menyebut bahwa baterai solid-state masih membutuhkan waktu lebih panjang untuk dapat diproduksi secara massal dan digunakan secara luas di kendaraan konsumen.

Menurut perusahaan tersebut, tantangan terkait biaya produksi, stabilitas material, hingga proses manufaktur masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Karena itu, adopsi massal baterai solid-state diperkirakan baru akan terjadi mendekati tahun 2030.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara menunggu teknologi tersebut matang, pasar kendaraan listrik global masih didominasi baterai lithium iron phosphate (LFP) dan baterai berbasis nikel yang terus mengalami penyempurnaan.

Meski demikian, kemajuan yang dicapai para peneliti China menunjukkan bahwa pengembangan baterai masa depan bergerak semakin cepat. Jika berbagai kendala teknis berhasil diatasi, mobil listrik dengan jarak tempuh 1.000 kilometer bukan lagi sekadar konsep, melainkan berpotensi menjadi kenyataan dalam beberapa tahun mendatang.

Taksi Green SM

Green SM Buka-bukaan soal Pendapatan Driver, Sehari Bisa Rp 400 Ribu

Green SM menawarkan skema pendapatan hingga Rp 400 ribu sehari bagi pengemudi mobil, lengkap dengan program sewa kendaraan listrik dan insentif berbasis kinerja.

img_title
VIVA.co.id
23 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut