Lari Membuat Hidup Saya Bahagia

Lari membuat hidup saya bahagia
Sumber :
  • Instagram Koko Lato

Merasakan sensasi meditasi juga dipetik Koko sebagai manfaat olahraga lari lainnya. “Ketika lari itu enggak ada yang kita pikirin. Itu kita bisa ngobrol sama diri sendiri, evaluasi. Misalnya, kayaknya kok aku umur sekian masih belum ngapa-ngapain, atau tahun depan kayaknya aku mau beli sesuatu, kalau mau itu aku harus ngapain,” cerita Koko.

img_title Kemala Run Makin Mendunia, Dari Event Komunitas Kini Jadi Ajang Internasional

Koko juga mengaku di awal-awal memulai olahraga itu, selalu ditemani headphone untuk mendengarkan musik. Lama-lama, ia merasakan keasyikan tersendiri lantas menanggalkan alat dengar musik itu. Baginya, dengan berlari dapat menjadi penghilang stres.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pernyataan Koko itu senada dengan penelitian populer yang membuktikan bahwa olahraga memunculkan endorfin, sejenis hormon yang dikenal sebagai pembunuh rasa sakit serta menimbulkan rasa senang dan euforia.

img_title Satu Dekade Titan Run, Lomba Lari Unik dengan Sajian Durian

Lari padat manfaat 

Berkat keteguhan Koko berlari, hasil positif mulai ia rasakan. Di tiga bulan pertama, berat badannya turun 6 Kg. Ia juga mengaku pikirannya lebih fresh, kualitas hidup meningkat, merasa mood bahagia seharian, dan senang bisa memperluas jaringan pertemanan.

img_title Lari Jarak Jauh hingga Kids Dash, Aspek Keamanan Jadi Sorotan

Namun itu tak lepas dari disiplin yang ia jalani. Bukan hanya datang latihan tepat waktu sejak pagi-pagi buta, tapi juga mematuhi aturan yang berlaku di komunitas Runner’s Nation. Salah satunya cukup tidur malam mulai jam 9.

Komunitas lari Runners Nation
 
“Kalau di sini (Runner’s Nation), kunci lari biar enak dan nyaman, salah satunya istirahat cukup. Makanan dan kualitas tidur itu sangat diperhatikan. Jam 9 malam harus sudah tidur. Pahit-pahitnya jam 10. Kalau lebih dari itu, dianjurkan lebih baik enggak lari karena bisa berdampak pada jantung,” jelas Koko.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Di grup Whatsapp kita selalu dipantau, jam 9 malam sudah tidak boleh ada percakapan. Awalnya susah karena aku termasuk tipikal begadang. Tapi setelah dicoba, bisa. Kuncinya cuma enggak pegang gadget, enggak nonton tivi, gitu aja sih,” kata Koko.  

Stadion Soemantri kian terang. Sinar matahari yang tadi masih malu-malu, kini nyaris memenuhi  permukaan lapangan. Waktu menunjukkan pukul 8.15. Para pelari kantoran yang tadinya beristirahat di tribun satu per satu beranjak. Begitu pula Andri, Koko, dan saya. Jam kerja mulai menyapa tanggung jawab kami.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut