Inikah Bibit-bibit Korea Bersatu?

Konferensi bersama pemimpin politik dan pejabat di Korut soal ide unifikasi
Sumber :
  • KCNA / via REUTERS

“Gerakan Korut yang hangat terhadap Korsel memiliki maksud mendasar yaitu menggunakan olimpiade sebagai terobosan untuk mengatasi kesulitan keuangan mereka,” kata salah satu sumber tersebut yang tak disebutkan namanya, dicukil dari Asian Correspondent.

img_title Jembatan Darat Pertama Penghubung Rusia-Korea Utara Diresmikan, Diberi Nama Perwira Soviet yang Selamatkan Pendiri Korut

Walaupun sebenarnya, Korut belum benar-benar “mati” secara ekonomi. Negara itu belakangan diketahui masih mengirimkan komoditas ke China. Hal ini yang membuat AS sempat geram kepada Beijing dan menuding bahwa pemerintahan Presiden Xi Jinping tidak memiliki itikad meredakan ketegangan konflik di Korea.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara Korut juga dilaporkan masih mengirimkan batu bara ke Rusia. Padahal PBB sudah melarang ekspor batu bara dari Korut sejak Agustus tahun 2017. Sejak dilarang, terindikasi tiga kali kapal-kapal Korut mengirimkan batu bara ke dermaga Rusia di Nakhodka dan Kholmsk. Yang juga mengherankan disebutkan bahwa batu bara asal Korut itu dimuat ke kapal Jepang lalu diangkut ke Jepang pula sebagian ke Korea Selatan.

img_title Kim Jong Un Copot Menhan Korut Usai Latihan Gabungan Korsel-AS, Ada Apa?

Tak Bisa Diprediksi

Reunifikasi Korea Selatan dan Korea Utara diyakini sejumlah ahli memang bukan hal yang bakal mudah terbaca. Oleh karena itu sikap mengejutkan Korut yang tiba-tiba mendukung penyatuan adalah fenomena yang bisa terjadi kapan saja.

img_title Trump Perintahkan Pentagon Pangkas Latihan Militer AS-Korsel, Singgung Hubungan dengan Kim Jong Un

Sama seperti runtuhnya Tembok Berlin yang tak terduga, faktor perubahan bisa muncul tanpa diperkirakan. Dinamika hubungan negara bisa bergerak dan berubah dalam waktu singkat apalagi bersinggungan dengan ekonomi yang menjadi salah satu tonggak tegaknya pemerintahan.

Pakar ekonomi di Asiatic Research Institute dari Korea University, Jong-Wha Lee, dan pakar dari Australia National University yang juga Direktur Centre for Applied Macroeconomic Analysis at Crawford School of Public Policy, Warwick McKibbin pernah menuliskan dalam working paper yang berjudul ‘Modelling the Economic Impacts of Korean Unification’ soal reunifikasi Korut-Korsel.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mengutip dari tulisan itu yang dimuat dalam situs web resmi East Asia Forum pada tahun 2017 disebutkan bahwa meski konflik di semenanjung Korea termasuk yang paling berbahaya namun keadaan bisa segera bertolak belakang seturut dengan perubahan sikap Korut.

Oleh karena itu menurut mereka, Korea Selatan harus bersiap dengan hal ini. Tentunya bagi dunia, penyatuan Korut dan Korsel akan menghilangkan satu potensi ancaman titik api dalam sekam yang bisa memantik pecah perang. Namun bagi Korsel, hal itu artinya juga beban ekonomi yang cukup berat.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut