Kebangkitan Trah Soeharto
Ridha menekankan Berkarya adalah partai yang dibentuk dengan desain semangat kalangan muda atas berbagai persoalan bangsa. Kesolidan partai dibangun mulai dari anggota pengurus ranting di setiap daerah.
Target ke depan jelas ingin Garuda lolos sebagai partai parlemen meski berat dan harus bersaing dengan parpol lama. Menurut dia, dengan jaringan kelompok anak muda, beberapa program lintas sektor terkait isu kesejahteraan sosial ekonomi sudah siapkan.
"Kami partai baru tapi punya planning yang sangat jelas gitu loh. Kami ingin lolos ke parlemen. Target, misi kami ingin menjadikan Garuda punya kepakan. Sedikit bicara, banyak kerja dan ada hasilnya," tutur Ridha.
Ekstra Kerja Keras
Baik Berkarya dan Garuda harus membuktikan terlebih dulu agar bisa lolos ke parlemen. Menembus ambang batas 4 persen sebagai parpol baru di era Reformasi dinilai sulit. Apalagi ada 12 parpol yang akan menjadi pesaing kuat. Meski demikian, peluang lolos selalu terbuka. Asalkan di waktu sisa mepet ini bisa memaksimalkan elektabilitas parpol.
"Dua partai ini mengejutkan, tapi inilah demokrasi yang beri warna baru. Lolos ke parlemen dulu saja sudah bagus. Itu juga butuh ekstra kerja keras, berdarah-darah," tutur pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio saat dihubungi VIVA, Senin, 19 Februari 2018.
Kemudian, ia memberikan catatan untuk Berkarya. Ia menganalisis sulit 'menjual' program Orde Baru di era sekarang. Figur Tommy Soeharto dianggap belum bisa memberikan efek signifikan terhadap parpol. Namun, kenangan Orde Baru bisa dijual bila kinerja kabinet ekonomi pemerintahan Joko Widodo gagal.
"Bila kondisi ekonomi tidak membaik maka kampanye keberhasilan zaman Orba lebih enak bisa ditelan. Jualan Orde Baru berhasil, enakan zaman Soeharto dibanding Reformasi," ujar Hendri.
![]()
Foto: Elite Partai Berkarya saat mendaftar ke KPU.
Hal senada disampaikan pengamat politik Adi Prayitno. Menurutnya, saat ini sulit menjual romanstisme Orde Baru. Bila masyarakat sebagai suara pemilih hanya berpikir pendek maka kenangan manis Orde Baru bisa diterima. Namun, sebaliknya jika berpikir rasional maka sulit. "Mengembalikan Orde Baru akan diterima bila berpikir pendek. Tapi, kalau berpikir rasional akan ditolak," kata Adi.