Mengusut Otak Penebar Hoax
- Repro Instagram
Meski diduga terkait pesanan politik, polisi diminta tetap bisa mengusut tuntas. Pengusutan ini jangan hanya pada pelaku eksekutor, namun juga dijerat dalang di balik kemunculan MCA.
Baca: Pembagian Peran di Family Team MCA untuk Sebarkan Hoax
Pengamat intelijen Al Chaidar mengatakan modus operandi kelompok MCA hampir mirip dengan Saracen. Dari praktiknya, ia melihat dua sindikat ini punya otak yang menjadi konseptor. Otak di belakang layar ini bisa memiliki kekuatan dana dan jaringan untuk muatan kepentingan.
"Saya kira polisi juga harus menangkap pimpinan otak virus MCA, yang memesan siapa? Jangan seperti Saracen kan. Hukum jangan tajam ke bawah, tapi tumpul di atas. Ini harus diusut," kata Al Chaidar saat dihubungi VIVA, Kamis, 1 Maret 2018.
Jangan Pilih Kasih
Ditangkapnya sejumlah anggota penebar hoaks MCA menjadi perhatian publik. Ada yang mengapresiasi, namun juga ada harapan disertai kritikan untuk kinerja aparat kepolisian.
Wakil Ketua DPR Fadli Zon meminta polisi bisa transparan dalam mengusut kasus MCA. Ia tak ingin pengungkapan MCA seperti Saracen yang hanya mengundang kehebohan tapi menguap. Pengungkapan kasus hoax butuh ketegasan dalam penegakan hukum.
"Kalau misalnya memang pihak siber polisi mau melakukan pemberantasan terhadap hoax, kami setuju. Tapi, harus betul-betul adil mengusutnya. Jangan pilih kasih," kata Fadli kepada VIVA, Kamis, 1 Maret 2018.
Baca: Bohong dan Provokatif, Ciri Khas Berita yang Disebar MCA
Menurut dia, kinerja aparat saat ini masih pilih kasih dalam kasus ujaran kebencian. Tebang pilih ini dilihat dari tak ada kelanjutan dari laporan perkara ujaran kebencian yang merugikan pihak non-pemerintah. Namun, berbeda dengan perlakuan terhadap pihak yang menentang pemerintah.
"Nah, ini yang disisir adalah selalu pihak-pihak yang dianggap menentang pemerintah. Sementara kalau yang menjelek-jelekkan dari pihak non-pemerintah atau oposisi itu tidak di-follow up sampai sekarang," tutur Fadli.
![]()
Suara kritikan dilontarkan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Aparat penegak hukum diminta bijak dalam menyikapi kasus ujaran kebencian di media sosial. Penegakan hukum juga harus melihat sensitivitas yang terjadi dalam dinamika kehidupan masyarakat.