Desainer 'Gila' Itu Merajalela
- VIVA.co.id
Semasa sekolah, Yungyung remaja sudah bisa mendesain, jatuh cinta dengan pelajaran menggambar, mewarnai dan kerajinan tangan. Bahkan, untuk kerajinan tangan, dia mampu mengerjakannya dengan sangat rapi. Bakat itu, memang sudah ada dan dia terus mengasahnya.
Dan, ketika lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), bungsu dari tiga bersaudara itu memilih langsung bekerja dibanding kuliah, karena selain orangtuanya sudah pensiun, dia tak ingin membebani kakak-kakaknya dan mau hidup mandiri. Dia bekerja di beberapa perusahaan swasta hingga bersua dengan desainer gaun pengantin sekitar tahun 1990-an bernama Kim Thong untuk memasarkan tiara dari satu desainer ke desainer lainnya.
Namun, itu tak berlangsung lama, tidak ada setahun, dia memilih hengkang dan berlabuh ke perusahaan elektronik kakaknya. Di sinilah, perjalanan Yungyung untuk menjadi salah satu desainer yang diperhitungkan dunia, dimulai. "Waktu jam 12.00 istirahat, saya memilih enggak istirahat dan pergi ke pabrik," katanya kepada VIVA.
Di sana, Yungyung muda melakukan eksperimen dengan bahan ala kadarnya, di antaranya akrilik, kawat, kabel, benang, alat potong dan merangkainya menjadi sebuah mahkota atau tiara. Dia pun menghiasnya dengan payet dan kristal. Itu adalah karya perdananya yang dibuat selama beberapa bulan sekitar tahun 1996 silam.
Meski tampak kasar dan sederhana, tetapi dia sendiri tak menyangka bisa membuatnya. Sejak itu, minatnya membuat tiara semakin tak terbendung. Imajinasinya bermain liar di kepalanya dan minta segera diwujudkan. Â
Yungyung mulai membuat lagi dan lagi. Pada suatu titik, dia nekat berhenti menjadi karyawan untuk membuka usaha sendiri. Meski saat itu masih tak yakin, namun dia mengikuti hasrat yang membuatnya bahagia.   Â
"Saya enggak bisa bilang yakin ke kakak (untuk buka usaha sendiri), yang penting bahagia dalam mengembangkan dan mempertahankan. Jadi, kebahagiaan yang membuat saya bertahan," ucap pria penyuka warna hitam ini.
![]()
Dia pun membeli bahan dan memasarkan karyanya sendiri dengan harga saat itu sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu dengan menggunakan ojek. Seiring waktu, Yungyung pun berkenalan dengan desainer fesyen Indonesia, di antaranya Sebastian Gunawan dan Didi Budiardjo. Dari desainer-desainer itulah, Yungyung mendapatkan ilmu dan teknik mendesain. Selain mereka, dia juga rajin belajar dari banyak buku.