Awas Candu Digital Pornografi
- REUTERS/Stoyan Nenov
![]()
Bentuk eksplisit seperti pornografi, pedofilia, voyeurisme, aktivitas seks lebih dari dua orang dan aktivitas menyimpang lain menimbulkan ketidakpekaan saat bercinta. Dalam jangka panjang, mereka akan sulit merasakan kenikmatan dengan aktivitas seks normal. Sehingga, mereka cenderung merasakan seks menyimpang sebagai kebutuhan agar menjaga rangsangan seks tetap tinggi.
Seperti dikutip Times of India, aktivitas seksual dengan rangsangan gambar atau video porno membuat seseorang sulit bila dirangsang pasangan. Ini pula yang menimbulkan permasalahan dalam pernikahan dalam waktu lama.
Penyebab umum lain SADD adalah hubungan seksual dengan banyak pasangan sebelum menikah. Karena terbiasa dengan banyak pasangan sulit meletupkan gairah seks hanya pada satu pasangan.
Selain itu para pecandu biasanya telah memiliki gambaran tentang bagaimana wanita seharusnya. Dan, pasangan yang tidak sesuai harapannya mungkin menimbulkan kekecewaan yang berpengaruh pada gairah seks.Â
2. Sulit bedakan nyata dan virtual
Seseorang yang intens menikmati VR Porno memungkinkan dirinya mendapat pengalaman yang intens dengan pasangan virtualnya. Teknologi ini juga memungkinkan penikmatnya mendapatkan pengalaman pribadi sejenis yang bahkan lebih nyata dan sempurna daripada dunia nyata.
Dilansir laman The Independent, Dr Madeline Balaam, peneliti dari Universitas Newcastle menyebutkan hal itu sangat berisiko tinggi.
"Sebagai masyarakat kami selalu mencari pengalaman baru dan baru tetapi industri porno membawa serta risiko tambahan karena sikap seksis dan eksploitasi perempuan," ujarnya.
Yang mengerikan ia menyebut bahwa kehadiran VR Porno ini membuat manusia terobsesi dengan citra tubuh dan industri digital. Mereka terdorong untuk memiliki kesempurnaan, menurutnya tak ada bedanya seperti menciptakan wanita virtual yang sempurna atau sekadar menciptakan boneka seks yang mirip dengan imagnasi mereka. Video porno VR memiliki potensi untuk meningkatkan ini.
![]()
"Penelitian kami menyoroti tidak hanya dorongan untuk mencapai kesempurnaan, tetapi juga terjadinya persilangan antara realitas dan fantasi. Orang akan sulit membedakan yang mana realitas dan fantasi."
Tak menutup kemungkinan, bahwa teknologi ini juga menciptakan model 3D dari orang-orang yang hidup di dunia nyata, dan mereka bebas melakukan apa saja pada ciptaan fantasinya itu.