Indonesia Krisis Budi Pekerti
- VIVA.co.id/jangankuper.com
Lingkungan sekolah
Kabar tentang kematian Budi karena dianiaya MH, sempat mendapat sorotan dari Presiden Jokowi. Peristiwa itu menunjukkan bahwa pendidikan karakter di Indonesia masih belum sempurna.
"Betapa pendidikan karakter, pendidikan budi pekerti menjadi PR (pekerjaan rumah) besar," kata Jokowi saat memberi arahan di acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan di Gedung Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sawangan, Depok, Jawa Barat, Selasa, 6 Februari 2018.
Menyinggung soal pendidikan karakter, Najelaa Shihab justru telah mengatakan bahwa Indonesia krisis budi pekerti sejak lama, jauh sebelum kejadian guru meninggal akibat dihajar murid.
“Krisis budi pekerti itu sudah saya katakan sejak lama, bahkan puluhan tahun lalu. Tapi kita baru menganggap itu darurat ketika sudah ada korban jiwa di depan mata. Padahal ada banyak sekali kekerasan yang tidak diberitakan di media,” kata Ella.
![]()
Sebagai langkah solusi dalam rangka memutus mata rantai kekerasan di lembaga pendidikan, Ella mengatakan bahwa ini merupakan masalah ekosistem. Semua elemen bangsa ikut terlibat jika ingin berbenah.
“Iya, perombakan harus terjadi. Dari pemerintah, misalnya kurikulum. Karena semuanya ikut terlibat dalam ekosistem itu. Peran orangtua, misalnya tontonan anak di rumah itu juga memengaruhi. Guru di sekolah juga, kompetensi untuk menjadi pengajar yang baik itu seperti apa,” kata Ella.
Selain itu, sekolah sebagai tempat menimba ilmu dan pendidikan, selayaknya menyediakan atmosfer yang nyaman bagi semua penghuninya. Tidak hanya murid, tapi juga guru. Begitu seperti dikatakan psikolog Nessi Purnomo.
“Sekolah harusnya jadi kegiatan dan tempat yang nyaman untuk anak. Anak diberi dukungan tidak hanya hal-hal yang bersifat akademis, tapi juga keterampilan lain. Karena ada anak yang pandai di bidang pelajaran, tapi ada juga yang terampil hal lain,” kata Nessi Purnomo ketika dihubungi VIVA.
Pada akhirnya, jika akar dari permasalahan kekerasan di sekolah adalah penegakan disiplin melalui jalur hukuman, Nessi Purnomo mengungkapkan pandangannya, “Hukuman pada anak atau murid, boleh. Tapi sifatnya harus membangun dan relevan. Hukuman harus punya nilai membuat anak menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Nessi.