Menguji Lagi Ganjil Genap di Tol

Peraturan Ganjil-Genap di Tol/Ilustrasi
Sumber :
  • ANTARA Foto/Widodo S Jusuf

"Tetapi, kalau diperpanjang kami prihatin juga nih. Jangan ditarik dari JORR (Jakarta Outer Ring Road) ke Tangerang. Enggak bisa lewat kami," ujarnya. 

img_title Awal Juni, Rambu Perluasan Ganjil Genap Dipasang

Selain memberikan jalur khusus untuk angkutan barang dan logistik, Djoko berpandangan, pemerintah perlu memperbanyak bus angkutan yang ada di Tangerang dan perumahan di sekitarnya. Tujuannya, agar pengguna kendaraan pribadi sedikit demi sedikit beralih ke angkutan umum. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Soal hal ini memang cukup pelik. Dia melihat kepala daerah di lingkungan Jabodetabek belum bisa duduk sepakat bareng mengintegrasikan angkutan umum secara sempurna. 

img_title Catat, Jelang Asian Games Ganjil Genap di Ibu Kota Diperluas

"Kepala daerah tak paham saya melihatnya. Apalagi program angkutan umum belum menjadi isu politik," ujarnya. 

Ganjil genap di tol yang berhasil menurunkan kemacetan memang menguntungkan bagi investor. Guru Besar Transportasi Universitas Gadjah Mada, Danang Parikesit, investor bakal semringah saat lalu lintas di jalan bebas hambatan ini mulus dan lancar. Sebab dengan lancar, jalan tol bisa mengakomodasi lebih banyak kendaraan per jamnya. 

img_title Jam Ganjil Genap Maju, Polisi Kaji Kelanjutan Uji Coba

Pendapatan investor bakal meningkat dan pengembalian investasi serta pinjaman akan lancar.

Belajar dari KRL

Penerapan ganjil genap ini memang bertujuan mengurangi kemacetan dengan mengarahkan pengguna untuk memakai angkutan umum. 

Djoko mengatakan, pada dasarnya masyarakat juga lelah dengan kemacetan. Energi banyak yang terbuang karena macet dan akhirnya masyarakat menjadi kurang produktif lantaran cepat lelah. 

Untuk mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum, Djoko mengajak pemerintah bisa melihat kisah sukses pengelolaan Kereta Rel Listrik (KRL).

Dia mengatakan, pada 2013, sekitar 300 ribu penumpang per hari menggunakan KRL. Tapi 2018, penumpang yang menggunakan KRL tiap harinya sudah hampir menyentuh 1 juta orang. 

Kereta KRL Commuter Line gedung pencakar langit pemukiman padat penduduk

Walau masih harus berkendara ke stasiun terdekat, tapi penumpang rela. Apalagi, kata dia, kalau pemerintah menyediakan bus atau angkutan yang trayeknya melewati dekat perumahan atau permukiman pengguna. Untuk menarik minat pengguna jalan raya ke angkutan umum, tentunya angkutan umum harus bagus, tarifnya terjangkau dan nyaman. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jadi enggak usah contoh jauh-jauh ke luar negeri. Konsisten saja, bisa lebih luwes kok," kata dia. 

Momentum untuk beralih ke angkutan umum bisa segera makin mudah nanti saat beroperasinya Light Rail Transit (LRT) dan angkutan massal lainnya. Tulus mengatakan, saat LRT sudah beroperasi, harus ada sistem pengendalian kendaraan pribadi secara permanen.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut