Menangkal Radikalisme Anak

Para murid di suatu Sekolah Menengah Pertama berdoa sebelum memulai kegiatan.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Reno Esnir

Anak-anak berjalan ke sekolah
 
Ada tiga pintu masuk radikalisasi di sekolah, dijelaskan Darraz salah satunya dari faktor eksternal akibat kebijakan sekolah yang terlalu longgar dan tidak memiliki filter yang cukup kuat. “Di sekolah yang kami survei itu kami menemukan ada pertemuan bulanan yang narasumbernya mengundang pihak luar (sekolah) yang tanpa mereka sadari berasal dari kelompok radikal ini,” ujar Darraz.  
 
Kegiatan ekstra kurikuler juga dijadikan akses bagi elemen luar untuk masuk menebar benih radikal di sekolah. Dalam hal ini, alumni sekolah menjadi oknum yang turut berperan. Mereka biasanya sudah terpapar radikalisasi secara intensif di tingkat perguruan tinggi. “Tingkatan ekstrakurikuler ini juga macam-macam, ya, yang bisa dimasuki (pihak luar). Salah satunya yang cukup kentara adalah Rohis (Kerohanian Islam) dan OSIS,” kata Darraz.  
 
Faktanya, kegiatan ekstra kurikuler di sekolah didampingi oleh para mentor yang merupakan alumni sekolah tersebut. Selain memberi bimbingan ekstrakurikuler, para siswa biasanya diajak untuk melakukan pertemuan di luar sekolah yang tentunya sulit dimonitor oleh pihak sekolah.  
 
Selain itu, guru sebagai pendidik utama di sekolah, tidak menutup kemungkinan terkontaminasi dengan paham-paham radikal dan menularkan apa yang ia yakini sebagai kebenaran itu kepada anak didiknya. “Setelah kami telusuri guru-guru ini ternyata terafiliasi pada kelompok-kelompok pengajian tertentu di luar sekolahnya, dan itu kelompok pengajian yang kita anggap menyebarkan nilai-nilai radikal dan anti Pancasila,” ujar Darraz.  
 
Sayangnya, banyak yang tak sadar bahwa kelompok keagamaan yang diikuti turut andil mempromosikan nilai radikal dan intoleransi, baik oleh pengikut maupun orang-orang di luar kelompok itu. Seolah penilaiannya sama rata, yaitu segala sesuatu yang berbau agama pasti baik dan mulia, serta jauh dari unsur negatif. Dan hal ini diperparah dengan minimnya kemampuan berpikir kritis pada target kader yang rata-rata masih remaja.  

img_title Terkuak, Asal Mula Pelajar Hendak Lakukan Bom Bunuh Diri di Malang Terpapar Paham Radikalisme

Presiden Joko Widodo berbincang bersama pengurus OSIS SMA
 
Sebagai penguat fakta, data hasil riset Wahid Foundation berikut ini layak dicermati. Penelitian terhadap 1.626 pengurus Rohis pada 2-6 Mei 2016 berjudul Potensi Radikalisme di Kalangan Aktivis Rohani Islam Sekolah-sekolah Negeri. Data menunjukkan pandangan dan sikap pengurus Rohis terhadap isu-isu pidana dan politik Islam sebagai berikut:
 
Mendukung ide kekhalifahan (78 persen), setuju orang murtad dibunuh (17 persen), orang berzina dirajam (62 persen), dan hukuman potong tangan bagi pencuri (51 persen). Para responden juga sangat sering mendengar materi pengajian yang cenderung radikal (20 persen). Mereka yang menolak ucapan selamat hari raya sebanyak 60 persen. Ketika ditanya siapa pemateri pengajian, 50 persen menjawab guru agama.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut