'Melompat' ke Jokowi, Apa yang Dicari

Gubernur Nusa Tenggara Barat, Muhammad Zainul Majdi, bersama Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

Meskipun demikian, Idil tidak menutup kemungkinan mereka benar-benar pindah karena rasionalitas terhadap kinerja Jokowi. Dalam arti, mereka menyadari Jokowi berhasil selama menjalankan pemerintahannya.

img_title Iring-iringan Jokowi Lewati Dukuh Atas, Warga Teriak: Terima Kasih Pak Jokowi

"Kedua bisa jadi secara idealis pemahamam mereka terhadap konteks kerja Jokowi," kata dia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ali Mochtar Ngabalin

img_title Apa Istimewanya Mobil yang akan Digunakan Presiden Jokowi Pulang ke Solo

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, mengatakan masing-masing dari orang-orang itu memiliki catatan dan alasan sendiri. Tapi yang jelas, menurutnya, kepindahan mereka demi menjaga kepentingan mereka masing masing.

Khusus untuk figur seperti HT dan TGB, apakah bisa disebut mencari aman, karena keduanya memiliki bumbu-bumbu kasus hukum? Hendri tidak sependapat.

img_title Tim RIDO Pastikan Prabowo Hanya Dukung Ridwan Kamil-Suswono Untuk Keberlanjutan

"Enggak juga. Tapi mereka memang punya kepentingan pribadi. HT mungkin membesarkan partai, TGB supaya NTB tetap bisa membangun," kata dia.

Permainan Sandiwara

Sementara itu, pengamat politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, menilai fenomena itu sebagai cacat bawaan dari demokrasi di Indonesia yang menganggap ideologi politik tak penting. Padahal, ideologi menjadi sesuatu yang prinsipil politik untuk mengukur konsistensi dan keajegan sikap seseorang. Akhirnya demokrasi hanya menyuguhkan praktik politik yang sumir, main-main dan penuh kepura-puraan.

"Kejadian pindah haluan yang begitu cepat ini di luar batas logika normal. Hari ini saling menegasi esok saling berangkulan," kata Adi.

Kedua, lanjut Adi, loncat dukungan semacam ini adalah sebagai bagian dari efek buruk sistem politik yang cair dimana sekat-sekat politik nyaris tak ada. Perbedaan itu hanya mengeras saat pemilu saja, setelah itu semua merapat pada calon pemenang.

"Lihat saja hasil pilpres 2004 hingga sekarang, partai yang semula bermusuhan kemudian berlomba-lomba loncat pagar merapat pada penguasa," kritik dia.

Ketiga, Adi berpendapat mestinya bangsa Indonesia belajar dari negara-negara lain yang demokrasinya lebih maju dimana konsistensi seorang politisi terjaga dengan baik. Bukan cepat pindah haluan tergantung arah mata angin yang berhembus.

"Jika begini adanya, kita jangan pernah berharap persaingan ideologis antar calon serius adanya. Yang ada hanya permainan sandiwara politik belaka," tuturnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Keluar dari ‘Jalan Allah’

Sejumlah pihak langsung bereaksi atas manuver orang-orang yang dulu kritis dan kini merapat ke Jokowi seperti TGB tersebut. Salah satunya adalah Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional, Amien Rais.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut