Menyoal Instruksi Ulama Tenggelamkan Banteng
- VIVA.co.id/ Syaefullah.
VIVA – Masuknya nama kuasa hukum Habib Rizieq Shihab, Kapitra Ampera, sebagai bakal caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk daerah pemilihan (Dapil) Sumatera Barat, berbuntut panjang. Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) bahkan menuding Kapitra sebagai penyusup. Dengan menjadi caleg PDIP, Kapitra telah membohongi dirinya sendiri dan dia dituding sebagai penghianat.
Padahal Kapitra selama ini bagian dalam tim pembela Habib Rizieq yang secara prisinsip dipastikan tidak sejalan dengan PDIP, yang mereka tuding sebagai partai yang anti syariat Islam. Masuknya Kapitra sebagai caleg PDIP tentu membuat orang-orang yang ada di PA 212 berang.
Habib Rizieq sampai mengeluarkan instruksi agar umat tidak memilih dan mendukung siapa pun yang diusung oleh kelompok penista agama. Instruksi yang diklaim sebagai keputusan ulama juga memberi perintah untuk menenggelamkan banteng atau dapat diartikan sebagai PDIP dalam pemilu 2019 nanti.
Instruksi ulama ini disampaikan Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) Slamet Ma'arif kepada VIVA, Jumat 20 Juli 2018. Bergabungnya Kapitra di PDIP akhirnya memperjelas sikap khianatnya.
"Sikap kami sudah jelas, PA 212 di bawah komando Habib Rizieq Shihab (HRS) tidak pernah akan mendukung siapa pun yang diusung oleh kelompok penista agama, apalagi PDIP. Instruksi HRS jelas, gulingkan, tenggelamkan banteng. Kini semakin jelas mana yang taat dan mana yang khianat," ujar Slamet.
Mantan Sekretaris Front Pembela Islam (FPI), yang juga juru bicara Persaudaraan Alumni 212, Novel Bamukmin, mempertegas perintah Habib Rizieq Shihab (HRS) agar umat berjuang untuk menenggelamkan PDIP dalam pemilu nanti.
Apa yang diinstruksikan Habib Rizieq sudah disepakati seluruh ulama, khususnya alumni 212. Mereka sepakat untuk memberikan perlawanan terhadap kelompok yang dianggap penista agama.
Menurut Novel, apa yang telah disepakati ulama karena mereka telah melihat dengan nyata kemungkaran yang dilakukan PDIP. Karena itu, apa yang sedang dilakukan ulama saat ini adalah jihad konstitusi dan harus diwujudkan.
"Ulama khususnya alumni 212 sudah sepakat termasuk HRS untuk tenggelamkan banteng. Karena partai musuh umat Islam. Diduga partai itu sarang komunis, aliran sesat, penista agama, LGBT, pembubaran ormas Islam, kriminalisasi ulama, radikal dan antisyariat Islam," kata Novel Bamukmin kepada VIVA.